HALLO!!!

Cinta itu hati yang rasa, bukan panca indera!

Kamis, 15 September 2011

Kronologis Sera Di Rumah Sakit Ayah. (Part l)

Pagi ini aku seperti biasanya, sarapan pagi hanya beberapa suap saja karena tak ada waktu lama, baru saja aku mendapat telepon dari rumah sakit bahwa ada pasien kecelakaan yang harus dioperasi hari ini. Seperti biasa, hari-hariku sibuk dengan para suster, perawat, stetoskop, jas putih, dan alat-alat bedah. Aku tak memiliki feeling apapun, juga tak mimpi apapun semalam. Aku mulai menuju tempat kerjaku.
Alexander  Cristine, sebuha tulisan yang selalu aku baca tatkala melihat jam tanganku yang sedang menunjukan pukul 11.00 WIB setelah aku melakukan operasi yang alhamdulillah berjalan dengan lancar. Menjelang siang  aku menuju ruang kerjaku sekedar untuk menulis agenda kerjaku sejak pagi tadi. Namun di sela langkahku menuju ruangan, ku lihat wajah yang tak asing bagiku, menangis tertunduk lesu di depan kamar jenazah.
“Maaf, apa anda Sera?”, aku yang masih mencoba menyamakan wajah wanita itu dengan Sera, teman SMP ku dulu.
“He-le-na?”, ia mengeja name tage yang tertempel di dadaku.
Tak butuh waktu lama, ia memeluku dengan erat. Dari sini aku yakin bahwa wanita muda itu  adalah Sera, musuh bebuyutanku dulu. Aku yang tak mampu berbuat apa-apa, juga tak mungkin menghindari pelukanya hanya bisa pasrah dan menunggu ia melepaskan pelukanya dariku, sekitar tiga menit ia tak kunjung mengurai dekapan eratnya dari tubuhku sampai-sampai aku terbawa oleh isak tangisnya yang membekukan seluruh tubuhku. Aku juga sejenak melupakan sejarah tentang kami sewaktu umur kami masih kurang dari lima belas  tahun dulu. Sera Gunawan, siswi SMP Tunas Bangsa putri tunggal dar Dimas Gunawan dan Yanti Gunawan itu sangat terkenal. Siapa yang tak tau keluarganya? Harta mereka? Bahkan hanya orang bodoh yang tak tau nama perusahaan ayahnya yang saban hari muncul di televisi. Ia perempuan yang cantik bersih, tinggi langsing, putih mulus bahkan akan ku akui dia sempurna bila saja sikap dan perilakunya terpuji. Ya mungkin itu namanya tak  ada manusia yang tak sempurna. Sera gadis yang sombong, manja, dan selalu menganggap rendah setiap orang yang ia lihat, mungkin karena orang tua dan harta mereka, atau mungkin karena Sera saja yang sangat membanggakan harta milik ayahnya. Ayahnya, Dimas Gunawan adalah sesosok pemimpin yang baik hati, bijaksana, dan juga sederhana, hampir sama denga istrinya Yanti Gunawan. Mereka adalah pasangan yang sempurna, namun bagaimana dengan keluarga mereka? Setelah ditambah dengan Sera?
Beberapa menit berlalu, aku terpaksa melepas pelukan Sera karena nampaknya Sera tak kunjung sadar akan apa yang tengah ia lakukan di tempat umum itu. Ku gandeng tanganya menuju kantin rumah sakit tanpa sepatah kata pun. Aku masih tak tau harus berbuat apa? Ingin menanyakan apa yang terjadi, rasanya tak pantas untuk terlalu jauh mencampuri urusan Sera yang dulu juga tak berteman baik denganku. Kami duduk di meja nomor 5, memesan dua gelas orange juice dan ku mulai menyapanya, mungkin basa-basi.
“Sera, apa kabar? Lama tidak bertemu.”
“Sangat buruk untuk dua puluh tiga tahun terakhir, Hel.” Tatapan Sera tak lepas dari gelas yang sedang ia minum, setengah melamun.
“Kau tak tanyakan mengapa aku ada disini, Helena? Mengapa juga aku menangis sendiri di rumah sakit ayahmu ini”, sambung Sera.
“Sesungguhnya, Sera. Namun aku merasa tak pantas mencampuri urusanmu terlalu jauh. Tapi, bila kau mau berbagi, maka aku akan senang hati.”
Tak lama setalah aku menjawab pertanyaanya, Sera mulai bercerita tentang apa yang ia alami selama lima bulan terakhir, yang membuatnya seperti sekarang pula, menangis di rumah sakit ayah. Aku mendengarkan kronologisnya dengan seksama, dan melupakan semua masa lalu kami berdua. Aku sadar, aku dan dia sudah dewasa. Kami sudah dua puluh tiga tahun. Ternyata ayahnya, Dimas Gunawan meninggalkan Sera tepat satu hari menuju ulang tahunya pada Januari lalu. Semua jadwal acara yang sudah matang disusun hancur begitu saja dan menyebabkan kerugian puluhan juta rupiah, namun keluarga Gunawan tidak peduli. Hanya puluhan juta saja, bagi mereka uang adalah benda yang harus mencari mereka. Bukan mereka yang harus mencari uang tersebut. Sera shock berat atas kepergian ayah yang  paling dikasihinya. Manusia satu-satunya yang memperlakukan Sera bak Cleopatra, mungkin kalau Tuhan itu banyak, ayahnya lah Tuhan pertama dalam hidup Sera.  Ibunya, Yanti Gunawan bahkan sudah setegah gila semenjak kejadian itu. Sera semakin khawatir dengan keadaan itu, berbagai metode pengobatan dari yang tradisional hingga modern ia ikuti demi pulihnya kesehatan akal ibunya, ia juga tinggalkan bangku kuliah untuk itu. Milyaran rupiah sudah ia bayarkan untuk para dokter yang mau mencoba membantu kesembuhan ibunya dalam dua bulan pertama, namun hasilnya nol. Sera belum putus asa, kesana kemari ia browsing iklan mencari dokter, ahli pengobatan, bahkan yayasan terapi demi kesembuhan sang ibu. Sebuah situs internet dari sebuah rumah sakit ternama Singapura manawarkan pengobatan pada ibunya, Sera menaruh harapan besar pada rumah sakit itu. Karena memang tim medis disana sudah diakui di mata dunia. Tiga hari kemudian, Sera membawa ibunya untuk berobat ke Singapura.
Singapore Health Litter Center, sebuah rumah sakit khusus saraf yang ia datangi kala itu, bersama dokter George Smith, ia percayakan hidup Yanti Gunawan sepenuhnya, berapapun biayanya. Ternyata dari analisis tim medis, penyakit ibunya itu sangat langka. Mungkin hanya 7 dari 8 orang yang terserang penyakit saraf tersebut. Sudah pasti biaya pengobatan ibunya sangat mahal, apalagi di negeri orang, kini hampir satu bulan berada di Singapura, harta keluarga Gunawan hampir habis. Satu-satunya harapan sebagai sumber dana untuk pengobatan ibunya adalah perusahaan biskuit milik almarhum ayahnya. Sera berpikir untuk menjual saham perusahaan itu, tanpa berpikir panjang ia mengiklankanya melalui internet dengan harapan dapat dibeli oleh orang asing yang mampu membayarnya dengan harga lebih mahal. Benar saja, tak lama kemudian perusahaan Gunawan itu laku di tangan orang Jakarta, meleset jauh dengan apa yang ia harapkan, selain itu harganya pun juga tak terlalu tinggi, hanya cukup untuk pengobatan ibunya selama di Singapura. Namun Sera tak peduli, yang penting adalah kesehatan ibunya.
Dua hari ia ke Jakarta mengurus surat-surat penting dan meninggalkan ibunya yang koma ditangan tim medis tempat ibunya dirawat cukup membuat Sera tenang, karena ibunya berada bersama tim medis kelas dunia, sehingga ia dapat menjalankan bisnis dengan lancar. Dua hari berakhir, saatnya Sera kambali ke pengobatan ibunya, tinggal menunggu Garuda Indonesia mengantarnya ke Negeri Singa pukul 11.00 WIB, padahal sejak pagi tadi pihak rumah sakit menelepon Sera untuk melangsungkan operasi hari itu juga, maksud hati Sera ingin menemani ibunya operasi, namun keadaanya semakin buruk bila harus menunggu kedatangan Sera, kekhawatiran tentu muncul pada Sera juga dari tim dokter. Akhirnya Sera merelakan ibunya dioperasi tanpa ia di sampingnya, lagi pula Sera sudah mentransfer sejumlah uang untuk membayar operasi ibunya dari Jakarta. Waktu pemberangkatan pun tiba, Sera nampak resah dan gelisah. Ia tak mau sesuatu yang buruk terjadi pada ibunya, ingin rasanya cepat sampai di Singapura, mendatangi ibunya, mencium keningnya, dan  selalu ada ketika Yanti Gunawan tertidur pulas.
Sesampainya di rumah sakit, operasi sudah berjalan dan hasilnya…

**********Bersambung**********


Sabtu, 10 September 2011

Hiden Love Story Between Keong Emas, Dayang Sumbi, Timun Emas, and Sangkuriang (gambar dari kiri ke kanan)


Minggu pagi di hutan belantara yang lebat, angin berhembus sedang, terik yang menyinari, dan Sangkuriang yang menikmati akhir pekanya untuk menyalurkan hobi, berburu. Ya, dari kecil ia sangat gemar berburu, hingga tak heran ia lihai menarik dan menembakan anak panah dari panah kesayanganya itu. Tak ada yang berbeda dari cara Sangkuriang berburu dari waktu ke waktu, meski sesekali ia mencoba hal baru. Bedanya, sewaktu ia kecil selalu ditemani anjing kesayanganya, Tumang yang telah mati di tanganya sendiri sewaktu ia kecil dulu. Sangkuriang adalah seorang pria muda tampan, berpostur tubuh tinggi, kekar, dan pemberani. Ia selalu disegani oleh semua wanita yang melihatnya, namun Sangkuriang tak pernah tertarik oleh wanita manapun sebelum ia bertemu dengan Dayang Sumbi ketika ia sedang berburu di tengah hutan, tersesat dan berlindung di sebuah gubug tua yang tak lain adalah kediaman Dayang Sumbi.
“Maliiiiiinggg….maliiingg….maaallingg!!!.” Pagi itu teriakan Dayang Sumbi mengejutkan Sangkuriang yang sedang tidur di pelataran rumahnya.
“Bukan! Bukan! Saya bukan maling! Maafkan aku tanpa ijin menginap tidur disini. Kenalkan, namaku Sangkuriang, aku sedang berburu di hutan ini namun tak tau kemana arah pulang. Hingga larut malam dan menemukan rumahmu disini.”
Melihat sosok pria tampan dihadapnya, Dayang Sumbi langsung percaya bahwa ia pasti tak punya niat jahat kepadanya.
“Aku Dayang Sumbi.” Perkenalan itu dimulai, “Maaf, gubug ini terlalu jelek untuk pria setampan anda.”
“Iya, namun pemiliknya secantik bidadari yang aku impikan. Ijinkan ku pinang kau dengan bismillah.” Dengan keyakinan penuh Sangkuriang menyatakan keinginanya pada Dayang Sumbi, karena ia juga terlalu yakin bahwa Dayang Sumbi hidup sendiri.
“Apa? Apa aku tak salah mendengar? Mungkin bila terjadi, justru kau meminangku dengan musibah, tuan. Aku seorang janda. Bahkan baru sepuluh menit yang lalu kita mulai bertemu, dan di menit yang kesebelas, kau ingin menikahiku. Apa kau yakin?”
“Sangat yakin, mataku tak pernah bohong melihat semua warna yang ada di dunia ini. Lidahku tak pernah bohong menilai masakan sejuta koki, dan kini ku yakin hatiku takan pernah bohong untuk memilihmu.”
Luluh sudah hati dan perasaan Dayang Sumbi yang sekian tahun tidak merasakan cinta dari siapa saja, meski banyak yang mengejarnya, dari duda kaya hingga saudagar tua iya tolak dengan seksama. Hari itu juga, Dayang Sumbi menerima lamaran Sangkuriang dan akan menikah tak lama lagi. Satu mingu berlalu, Dayang Sumbi banyak mendapat kejanggalan dari Sangkuriang. Mulai dari namanya yang mirip dengan anak yang dulu pernah ia usir, hingga bekas luka di kepala akibat kemarahanya pada anaknya dulu. Suatu hari semua terbongkar jelas, ia memberanikan diri untuk berbicara masalah itu pada calon suaminya, Sangkuriang dan Sangkuriag mencocokanya dengan apa yang dulu pernah ia alami. Ternyata benar  mereka adalah ibu dan anak yang puluhan tahun terpisah. Namun keduanya melanjutkan tekat untuk tetap menikah karena cinta.
Dua tahun menikah, mereka belum juga mendapat keturunan tak seperti apa yang mereka idamkan-idamkan, hingga pada suatu malam saat mereka berdoa, munculah sesosok Buto Ijo yang menyapa.
“Hai manusia, aku mendengar semua doa dan pintamu. Tenang saja, akan aku kabulkan. Huaa…ha…ha…ha”
“Si-sii-siappaa kam-kaaa-muu?.” Tanya Sangkuriang.
“Aku Buto Ijo yang selama ini mengawasi kalian di hutan ini. Karena kalian cukup baik dan menjaga hutanku, akan aku kabulkan satu permintaanmu itu.”
“Ap-ap apa syaratnya wa-wa-wahai Buto?”
“Tak perlu syarat apapun, aku bukanlah Buto Ijo yang sering muncul di dongeng kalian sewaktu kanak-kanak dulu. Aku membantu kalian dengan niat yang tulus. Malam ini tidurlah dengan berdiri, maka besok pagi Dayang Sumbi akan segera hamil.”
Wussssss....Buto Ijo pergi begitu saja bersama angin yang melewati rumah Dayang Sumbi. Akhirnya Dayang Sumbi dan Sangkuriang memutuskan untuk mencoba usaha itu, dan ternyata benar apa kata Buto Ijo. Sembilan bulan kemudian Dayang Sumbi melahirkan seoang anak perempuan yang cantik jelita diberi nama Timun Emas.
----Tujuh Belas tahun kemudian---

Timun tumbuh menjadi wanita dewasa yang sangat anggun dan menawan, kecantikanya tak dapat dipungkiri sehingga Sangkuriang, ayahnya sendiri jatuh cinta kepadanya.
“Istriku, anak kita kini tumbuh menjadi wanita yang luar biasa. Dia cantik, menarik, pria mana yang tak tergoda? Aku tak rela siapapun memilikinya.”
“Apa maksud ucapanmu, suamiku? Timun Emas memang gadis yang luar biasa, hatinya pun sangat baik, dia harus mendapatkan suami sepertimu.”
“Aku akan menikahinya.”
“Apa?!” Dayang Sumbi sangat terkejut mendengar pernyataan suaminya.
“Ya, akan ku nikahi Timun Emas, aku akan menjaganya dengan baik, sayang. Karena aku tak yakin dengan semua pria jaman sekarang. Bagaiamana denganmu?”
Mendengar pernyataan Sangkuriang, Dayang Sumbi merasa tak dihargai dan tak diinginkan lagi, sehingga ia meminta Sangkuriang untuk memilih antara Dayang Sumbi atau Timun Emas yang akan menjadi istrinya. Dan ternyata Sangkuriang lebih memilih Timun Emas ketimbang Dayang Sumbi, betapa hancur hati Dayang Sumbi saat itu, dan ia memilih pergi meninggalkan anak dan suaminya yang sah menjadi sepasang suami-istri di keesokan harinya.
Kini, Dayang Sumbi hidup sebatang kara di hutan seberang. Di usianya yang makin tua malah tidak ada seorangpun yang menghiasi sisa hidupnya. Suaminya, Sangkuriang lebih memilih anaknya, Timun Emas yang lebih muda dan cantik ketimbang ia yang sudah tua dan makin keriput saja. Makan, mencuci, tidur, bahkan mencari bahan makanan di hutan ia lakukan sendiri setiap hari. Atau bila bermalas-malasan, sudah pasti ia tidak akan menelan apapun ke dalam perutnya.
Pagi itu, seperti biasa Dayang Sumbi pergi ke sungai untuk memancing ikan agar tetap dapat bertahan hidup, dan ketika menunggu mata kail dengan penuh pengharapan agar ia bisa makan ikan hari itu, ia memandangi cahaya berkilauan di seberang sungai. Ia menghampiri  berniat mengambilnya.
“Waaww….ini keong emas. Akan ku bawa pulang benda ini, siapa tau ia dapat berubah menjadi wanita cantik baik hati yang bisa membantu hidupku ini.”
Tak lama setelah itu, Dayang Sumbi membawa pulang seekor keong emas dengan penuh imajinasi. Ia teringat pada dongeng “Keong Emas” masa kecilnya, bahwa ketika mbok rondo memelihara keong emas dirumahnya, semua pekerjaanya dikerjakan oleh si keong dan hidupnya menjadi jauh lebih baik. Tak usah susah payah bekerja, semua sudah tersedia.
“Hmb…akan ku letakan kau disini tuan putri.” Sambil membersihkan dasar gentong di dapurnya yang sangat kotor, “Jangan sungkan-sungkan kalau mau berubah. Nanti siapkan makanan buat saya ya, keong. Sekalian, kamar tidur saya sangat berantakan, tolong diberesi. Sengaja aku berpesan, supaya kau tak berpikir panjang akan pekerjaan apa yang akan kau lakukan disini, keong emas.”
Lalu Dayang Sumbi meninggalkan keong emas di gentongnya, dan benar saja si keoang emas benar-benar berubah menjadi wanita cantik. Namun…
“Haloo, spaaaaaadaaa….kemana sih yang punya kandang ayam ini?” Gumam Keong Emas.
Mendengar suara itu Dayang Sumbi yakin bahwa itu adalah Putri Keong Emas, benar saja memang iya.
“Ka-ka-kamu putri dari keong emas tadi, kan?”
“Iya, kamu siapa? Dimana pemilik kandang ayam ini, bu?”
“Saya,Putri. Saya pemilik gubug tua ini.” Dengan wajah penuh pengharapan, bahwa Keong Emas pasti segera merubah rumah kandang ayamnya itu dengan rumah mewah.
“Ya ampun, hari gini manusia masih bisa hidup di kandang ayam toh, buk? Ah…masa bodoh, tolong siapkan aku makanan. Aku lapar semenjak disungai tadi. Lagi mau nyari makan kok malah diajakin ke kandang ayam ini, ya sekarang ibu harus tanggung jawab.”
Ternyata, Dayang Sumbi mengasuh keong yang salah, tak seperti apa yang sudah dia harapkan lengkap dengan permintaanya yang tidak-tidak.
“Loh, kok saya sih, Putri? Bukanya putri ini adalah anak raja yang dikutuk penyihir jahat menjadi keong emas? Jadi, pasti kamu sakti. Sehingga dapat meyediakan makanan enak untuk kita berdua.”
“Apa?! Plis deh, ibuk jangan sok tau. Saya ini memang terkutuk karena dulunya berani sama orang tua, nah kutukan saya berakhir setelah ada yang mau menolong saya. Ibuk kan sudah menolong saya tadi, dan membawanya kemari, jadi bebas deh.”
“Jadi kamu bukan putri yang bisa menyihir semuanya menjadi lebih baik?” Nampaknya penyesalan mulai terlihat dari nada bicara Dayang Sumbi kepada Keong Emas.
“Ya bukan lah buk, makanya jangan terlalu percaya sama dongeng jaman Meghanthropus. Sudah, buatkan saya makanan! Yang enak! Sekarang saya tinggal disini selamanya.”
Dan mulai saat itu, justru Dayang Sumbi yang makin tua malah menjadi tukang suruh Si Keong Emas yang jauh dari apa yang ia harapkan. Hidupnya makin susah, salah sedikit Keong Emas pasti marah. “Sudah jatuh tertimpa tangga” itu sangat menggambarkan keadaan Dayang Sumbi.

Jumat, 09 September 2011

Suka Cita Dalam Cinta

Ingat semua tentangmu adalah luka dan kebodohanku
Skenario lama yang kau mainkan, tak membuatku sadar akan sebuah penipuan
Aku berusaha untuk tak katakan menyesal
Tapi hati, pikiran, dan bibirku tak terkendali
Ku katakan pada mereka aku menyesal
Ku pikirkan semua tentangmu aku menyesal
Dan pernah mencitaimu aku menyesal
Satu hal yang membuatku sadar adalah kebodohanmu sendiri
Terlalu bodoh memutar fakta hingga jelas kurasa kecuranganya
Kau minta aku meninggalkanmu yang tak sempurna
Kau minta aku denganya yang istimewa
Lalu memojokanku yang tak berdaya
Aku sadar, bukan orang yang kau ingini
Bukan dia, ratu bidadarimu yang kau puji
Hingga kau mencari sela ‘tuk tinggalkanku sendiri
Siapa yang salah?
Kamu yang tak pandai mengarang cerita
Atau aku yang tak sadar rekayasa
Sudahlah manusia hina, kejar saja dia yang kau puja
Hingga sakit terluka dapat kau rasa
Dan untuku, tak ingin melihat belakang
Jika depan masih ada…
Terimakasih Bunda, Kau tunjukan siapa dia
Kau buka semua mata yang ku punya
Bahkan Kau juga buka hatiku…
Kulihat dia seaslinya, kusadari dia yang sebenarnya
Aku bahagia, meski luka sudah melanda…

Rabu, 31 Agustus 2011

My sweetest "lebaran" 2011

Gud evening, sist, kakek, nenek, mbah buyut, pakdhe, budhe, bapak, ibuk, Mba Dita, Mba Erin (mereka sister gue lohh :p), semut, kecoa, kambing, sapi, babi hutan, babi ngepet, babi ambeyen, babi adem panas, babi lagi nyuci di kali, pocong, sundel bolong, jenglot, wewe gombel, wewe gombal, wewe serbet, tuyul, suster ngesot, suster dandan, suster tiduran, suster tiduran sambil telentang, suster tiduran sambil SMS-an, tetangga deket, tetangga jauh, eneng, abang (ijo, kuning,abu2 *loohh???) dan muasiii buanyak lageeee…hari ini lebaran lohhh, emang yang Muhamadyah uda lebaran kemaren sih, tapi gue ngikut pemerintah (lebih solidnya ngikut keluarga besar gue) buat lebaran hari ini (Rabu, 31/8). Hohoho.
Nggak tau kenapa ya lebaran kali ini penuh dilema, penetapanya aja mepet banget, orang ngumumin Lebaranya Rabu-aja-hari Selasa-jam 19.00 WIB gitu, kemaren sempet emak (gue, mungkin emak lo juga) mau ngikut lebaran yang Muhamadyah malah, gara2 saking bingungnya….yaiyalahh secara pasti bingung banget, belanja sana, belanja sini, masak ini, masak itu, dimana-mana harga pada naik, parkir juga naik yang biasanya mau dikasih limaratus perak, pas lebaran gini ngebet banget minta seribu, bahka di pasar mintanya duaribu, gan! Dan mendadak tukang parkir ada dimana-mana kayak jamur di seluruh tubuh orang jamuran. Hahahaha. Mungkin menjelang lebaran, nantinya bisa dijadiin Hari Tukang Parkir wilayah boja dan sekitarnya. Boja gitulohhh! Sebenernya bukan itu sih yang mau gue bahas disini, bukan babi yang lagi nyuci di kali, dkk.  atopun tukang parkir yang lagi “merajalela”, melainkan adalah kenaasan emak(gue lagi) dan ibu2 lain, yang uda masak banyak banget buat lebaran hari Selasa, tapi ternyata mereka harus berlebaran hari Rabu, emak kalian gitu juga nggak, guys? (927.350.938 lebih rakyat Indonesia menjawab “iyaaaaaaaaa” dengan serentak dan panjaaaaang banget huruf “a”nya). Lha abis gimana lagi? Pemerintahnya aja bilang gitu, ehh btw, enak kali ya jadi pemerintah…ngomong gitu doang aja dipercaya orang se-Indonesia. Coba kalo gue, ngomong enggak nyolong tempe goreng emak gue aja harus dengan sumpah beserta air mata yang berlinang.
Padahal Senin malem gue uda dapet SMS lebaran lumayan banyak dari temen2…apakah mereka tetap merayakan lebaran di hari Selasa kemarin sudara-saudara? Mennyesalkah mereka sudah menyebar SMS ketika lebaran ditunda? Kita nantikan kisah selanjutnya, hanya di Silat. *ala ngomong presenter acara gossip yang bibirnya monyong2 itu lho.
And than, akhirnya Linda Uji (iyalah nama gue, masak nama makam ujung jalan sono?) sekeluarga puasa lagi di hari Selasa dan ikut berlebaran di hari Rabu. Kalo inget masakan mami (jaelah, tadi aja manggilnya emak) jadi kasian (dengan mata menatap keatas, dan tampang sok orang hilang) uda belanja panas2, masak cape2, ampe pegel2, semua beres, ehhh malah lebaranya ditunda sehari. Mungkin kalo gue jadi emak gue, tuh masakan bakal gue gadein ke warteg2 yang buka di hari Selasa, dijual juga gapapa, bahkan dengan harga yang harus merugi limaratus perak per pancinya-pun gue rela gan. Sayangnya gue bukan emak, bukan bapak, bukan Selena Gomez, ataupun bukan kalian, tetep deh, Alind. Nah disini yang namanya masakan harus dipanasin terus biar nggak basi, apalagi makanan yang pake santan (maksudnya dicampur santan gitu, bukan masakanya yang dipakein santan kayak kita kalo pake baju). Dengan cara yang manual kayak biasanya (soalnya emak gue belum punya terobosan baru buat ngawetin tuh makanan selain dengan dipanasin) emak gue pun begitu…dia rajin manasin masakanya dengan telaten dan tetep berusaha sabar akan ke-dongkolanya karena uda masak tapi nggak jadi lebaran. And, kalian tau nggak menu masakan emak di hari pertama lebaran(rencana awal yang sebenernya uda gol)? (enggak, gue bukan anaknya sih) adalah, gulai kambing, opor ayam (*tetep, khas lebaran), sambal goreng udang, gudeg beserta tetelan sapi, and masih ada satu lagi tapi gue lupa gan…daging juga pokoknya. Silakan mikir kenapa menu dirumah gue serba daging. Mari berfikir bersama karena gue juga nggak tau.
Itu semua, mereka(masakanya) hampir ancur gara2 seharian dipanasin biar nggak basi, bahkan terakhir diketahui sang opor ayam(dagingnya) uda banyak yang lepas dari tulangnya, sayap ayam tak lagi menjadi 3 bagian, melainkan hanya dua, bahkan satu, serangkaian kepala ayam tak lagi terdiri dari leher dan kepala serta moncongnya, melainkan hanya leher saja atau kepala saja dengan mata ayam yang terpejam atau mata ayam yang melek hanya berapa millimeter saja.
Sadis memang. Tapi itu kenyataan, demi kebaikan mereka juga biar nggak basi. Dan sekarang, ide sotoy namun juga nggak bener(ku) mulai bereaksi, kalo gitu jangan2 hantu tanpa kepala yang pernah gue tonton(dengan muka tertutup bantal seluruhnya dan keringat nggak jelas di keti gue berkucuran) dulunya adalah manusia yang mau di-opor sama Sumanto(bukan, bukan bapak gue. Dia manusia kanibal. Tetangga lo kali..hahaha :p). Apa mungkin si manusia itu terlalu sering dipanasin biar nggak basi, sehingga kepalanya copot dari leher ya? Lalu gimana sama ayam, donk? Apa mereka juga bakalan jadi hantu ayam tanpa kepala? Jangan2 iya, jangan2 memang ada, soalnya sering banget tengah malem aku denger suara ayam berkokok gitu, tapi tengah malem, gan. Tengah maleeemmmm…sekali lagi ahhh, TE-NGAH MAL-LEEMMM!! Apa iya, tuh ayam nyari kepalanya yang  dipenggal buat opor? Ahhh…ngaco nih, tapi beneran kalo soal ayam berkokok tengah malem…mungkin tuh ayam kepagian bangun, ato ayam mau saur kali ya? Secara kan kemarin masih ramadhan. Hahahaha serah tuh ayam deh mo ngapain dini hari…betewe eniwe baswe, napa malah nyampe ayam sih? Kan tadi gue cuman mau nyeritain kenaasan emak gue? Alahh……paraahh!!!!!! Yaudalah, kita lewatkan naas dan masuk ke bagian cercur *cerita curhat lebaran gue hari ini. Tadi gue bakar sate dirumah nenek, sengaja ane ambil gambarnya buat bukti ente2 semua. Selamat menyaksikan!

-keterangan :
1. (bukan, itu bukan pembantu dirumah nenek gue) ituh gue :-/
2. nama : Aldi, bagian : penyusunan daging ke tusuknya
3. nama : Yoga, bagian : pengapian dan pengecekan tingkat kematangan daging
4. nama : Okta, bagian : cuman melumuri kecap ke satenya (gue juga bisa sambil, mandi malah)
5.  nama : Yoga (lihat nomer 3, sama kok mukanya. hahhaha)
6. itu piring buat satenya, daan nggak punya nama





Perlu anda semua ketahui, adat lebaran dirumah nenek gue adalah, bakar sate kambing bareng2. Ntah dari kapan ‘n mo sampe kapan, yang jelas dari gue kecil uda begini kalo lebaran, ‘n semoga sampe kapanpun tetep begini…I love this moment, because we can fun and enjoyed our time. (kemesraan ini janganlah cepat berlalu…kemesraan ini ingin ku kenang selalu, nanana nnanana nanana, itu dia lagunya Iwan Fals pas banget lagi nge-play mengiringi jemari bantet gue ini yang sedang menari indah diatas kibor). Hahaha nggak nyangka, jangan2 winamp leptop gue bisa ikut baca nih tulisan, terus nyariin lagu yang sesuai dengan tema. Halahhh…mau ngaco part ll dah, sebaiknya harus segera dihentikan. Ingat, kejahatan datang karena kesempatan……inga’ ingaa’ tiinggggg!!!!!!!
****************************

Doooorrrrrr……..!!!!!!!!!!! (balik lagi lo, Lind? Kirain uda nyungsep dimana getoh). Gue cuman mau ngucapin, SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1432H, MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN yaaaa :*
Daaaaaahhhh……. :*

Jumat, 26 Agustus 2011

Tanpanya, Tuan Penguat Hati

By, Lupus

Kakiku tak lagi mampu melangkah
Kepala dan ragaku tak bisa tegak berwibawa
Bahkan mataku juga tak mampu bersinar binar
Lihatlah, ragaku dekat dengan tanah
Kepalaku tunduk ke bawah,
Sembunyikan tangis sang jendela dunia
Wahai, Pemberi Hidup!
Kau jatuhkan matahari diatas kepalaku, membuatku semakin tertunduk
Lalu Kau juga jatuhkan langit ke punggungku, membuatku semakin membungkuk
Ragaku semakin dekat dengan bumi, mungkin sebentar lagi aku akan mati
Kenapa Kau ciptakan mataku seperti mata yang lain?
Tiada keistimewaan darinya, tak mampu menahan air mata agar tetap tersimpan di dalamnnya
Hanya karena sebuah luka, tapi itu bukan luka biasa
Hai, Pemberi Nafas! Lihat aku! Hanya melihatku!
Taukah Kamu, betapa berat bebanku kini
Hanya sendiri aku mengatasi…
Dengarkah Kau isi hatiku saat ini?
Lihatkah Kau tulisan jemariku ini?
Mengapa harus ku hadapi sendiri?
Tanpa Tuan Penguat Hati

Semarang, 26 Agustus 2011

Kamis, 18 Agustus 2011

Hahahaha Di Senin Pagi


by, Lupus

Senyum lebarku tersungging, tatkala kuingat sebuah kabar baik
Pujaan hati yang kian lama pergi, kini datang kembali
Meski tak ke pelukku lagi, yakin cintanya masih ku miliki
Ya Tuhan, hari ini kian lama ku nanti
Lagi-lagi ku ceritakan pada sahabat
Mungkin ini namanya curhat
Dan mungkin hari ini aku jatuh cinta lagi, pada teman dekat
Tapi tunggu, aku masih milik orang, aku bukan penghianat!
Mungkin memang cinta tak harus memiliki
Pasti aku mampu menjaga hati
Bila nanti datang waktuku denganya, aku yakin semua pasti!
Kuharap kehendak Tuhan, semoga tiada hati tersakiti
Aku tak akan mendua pada siapa saja
Aku ingin seperti merpati yang tak berhati dua
Aku harus setia, dimana hatiku tak boleh berwisata
Hanya denganya, pemilik hatiku mungkin sampai selamanya
Duh, Gusti apa yang sedang terjadi?
Aku tak bisa membuang salah satu hati yang ku miliki
Dua hati berbeda namun penyempurna diri ini
Sudahlah, faktanya aku bahagia di senin pagi ini…

Semarang, 15 Agustus 2011

Rabu, 17 Agustus 2011

Aku, Mawar

by, Lupus

Aku mawar,
Bunga indah namun hidup dengan beribu siksa
Siksaan bagi kalian yang mencoba memetikku paksa
Tak hati-hati, tak pelan-pelan tanpa permisi
Hei...duriku tak hanya satu, tapi seribu
Dapat melukaimu, membuatmu berdarah
Bahkan duriku dapat menancap dalam pada jarimu dengan luka luar biasa
Aku mawar, bunga ganas
Tapi itu tangkaiku, hanya tangkai
Bila kau mampu taklukan tangkaiku, maka kau dapat menikmati mahkotaku,
Harumku, indahku, pesonaku, warnaku menyala siap merayu mata dan hidungmu
Aku mawar
Tak dapat hidup di tanah becek
Tak dapat hidup di gurun pasir
Aku merasa istimewa diatas tanah subur, hitam di alam bebas
Di tanah sempurna yang mampu menghidupiku walau apa adanya
Tanpa penyiraman rutin, tanpa pupuk mahal, tanpa perawatan tangan
Lihatlah, aku tumbuh liar namun tetap indah di tanah yang segan aku tumpangi
Diantara pohon-pohon rindang yang melindungiku dari sengatan matahari
Bersama rumput, batu, kumbang, bahkan kupu
Aku mawar, bunga liar
Bila suatu saat aku menjadi milik orang
Aku tetap akan tampakan indahku bila ia merawatku baik
Namun jika tidak, terpaksa aku layu, daunku kering, bungaku tak nampak, bahkan duriku tak tajam lagi
Dan aku akan mati
Aku mawar, ganas hidup liar
Namun dapat mati di tangan orang
Ya...aku mawar berbahaya namun tak sempurna
Seperti cinta, cintaku dan dirinya

Semarang, 17 Agustus 2011

Minggu, 14 Agustus 2011

Kalimat Buat Mantan

by, Lupus



Ketika ku membisu, tak kusadari mengingat banyak hal
Puluhan kenangan yang terputar bak film
Dalam satu waktu
Sekaligus, bersamaan, saat ini
Bergantian kuingat, bahkan masih dapat ku bayangkan lagi
Itu karena semua masih tergambar jelas, tanpa sesuatu terlewatkan
Saat itu… saat aku bersamamu
Mantan kekasihku
Dikala jauh dalam ingatan, dan anganku
Aku sangat inginkan hadirmu
Namun kala kau di pelupuk mata
Hanya benci yang mengambang ke permukaan
Mengapa kita bertemu, kalau harus berpisah?
Mengapa dulu aku mencintaimu, kalau sekarang malah membencimu?
Keterlaluan, berlebihan…
Harusnya aku mencintaimu sewajarnya saja
Agar aku dapat membencimu secukupnya
Maafkan aku, seseorang disana…

Semarang, 12 Agustus 2011

Aku Bemby, Apa Kita Kenal?

by, Lupus

Hari ini aku benar-benar merasa kehampaan yang luar biasa setelah dua puluh lima hari menjalin cinta denganya. Dia adalah Ben Syafiq, lelaki yang tiga tahun lebih tua dariku, berparas tampan, berkulit putih, meski tinggi badanya tak seberapa namun dia banyak di idolakan banyak gadis-gadis disini. Entah kenapa, kutemukan kejanggalan padanya hari ini, atau mungkin bahkan akhir-akhir ini, hanya saja aku baru menyadarinya, sekarang Sabtu, 13 Agusutus. Tak seperti biasanya pula, hari ini dia tak mengirimku sebuah pesan pendek pengantar malam, apa salahku? Apa dosaku padanya? Bahkan harus aku yang memulai mengirim teks pendek padanya.


To             :  my luvly (+628574222111)
Message :

Sayang, jangan lupa sholat…. :)



Namun tiga puluh menit sudah aku menunggu Hand Phone-ku berdering, berharap datang sebuah pesan balasan darinya. Harusnya aku lebih sabar lagi, mungkin tiga puluh menit adalah waktu yang sebentar untuk membalas pesan pendek dariku. Apa aku yang terlalu sabar hari ini?
“Ahh…biasanya juga seperti ini, lama. Beberapa kali saja dia begitu cepat membalas SMS-ku” Gumamku.
Aku mencari-cari dimana salahku padanya, aku mengingat-ingat dosa apa yang telah kulakukan, mungkin aku salah bicara, mungkin bercandaku kelewatan, tapi ingatan itu tak kunjung pulih, apa mungkin aku amnesia? Yang jelas aku masih lupa, atau memang aku tak berbuat apa-apa? Jelaslah, komunikasi saja jarang. Dia sibuk, sebenarnya aku juga sibuk kalau aku mau lebih serius dengan sekolahku sekarang. Tak lebih lima puluh SMS dia kirimkan untuku setiap harinya. Lima puluh? Angka yang tak sedikit, bukan? Namun untuk kelas berbalas pesan dengan seseorang yang istimewa adalah angka yang tak seberapa. Dalam diam, aku justru teringat akan kesalahan-kesalahan yang pernah aku perbuat dengan mantan kekasihku, ingatan itu justru datang di saat yang tak tepat, disaat aku tak menginginkanya. Kenangan itu berputar bagai film, begitu saja tanpa aku memulai mengingatnya dari mana. Dulu aku menyakitinya, bahkan mungkin aku menyia-nyiakan cintanya. Namanya Angga, dia mantan kekasihku, kami putus karena salah paham, mungkin. Sore itu temanku dan juga teman Angga bertanya padaku.
“Bem, Angga kenapa?”
Ya, mereka memanggilku Bemby, karena ayah dan ibuku mendoakanku lewat sebuah nama, Bemby Kurniawan. Bukankah nama adalah doa dari orang tua kita? Itu bukan nama yang buruk bukan? Malah menurutku itu doa terbaik dari mereka. Sebuah doa untuk selama hidupku yang tak sebentar, aku yakin.  Bemby merupakan gabungan dari nama kedua orang tuaku, Belinda dan Billy, sedangkan Kurniawan adalah nama belakang dari ayahku, Billy Kurniawan.
“Memangnya ada apa ya, Boy?” jawabku pada teman yang lebih terkenal dengan nama Boy.
“Hari ini Angga tampak berbeda. Terlihat beban yang ia pikirkan di wajahnya, dan sepertinya dia tak ada masalah dengan teman atau guru lain. Apa itu denganmu?”
“Sepetinya tidak. Kami hanya berteman biasa sekarang. Seperti aku dan kamu. Nothing special between us.”
“Teman? Apa maksudmu, Bem?”.
“Iya, sekarang aku dan Angga hanya berteman. Tidak lebih, mungkin itu lebih baik daripada dia harus “main serong” dengan Reza. Meski Reza teman kita, aku tak suka bila caranya seperti itu. Terlalu menyakitkan bagi seorang remaja dan sahabatnya.”
Nampaknya Boy mengerti apa yang ku maksud, karena tidak lama sebelumnya memang kasus itu mencuat, terdengar oleh banyak teman-temanku, menjadi desas-desus siswa kelas satu SMA. Aku memang yang mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan, meski sempat juga terjadi tawar menawar hubungan dengan Angga. Banyak teman yang menyayangkan tentang apa yang aku ambil dalam hubunganku dengan Angga. Namun di hatiku, sakit karena penghianatan lebih sakit daripada harus bunuh diri menggunakan pisau tumpul.  Apalagi itu terjadi oleh malaikat-malaikat yang selalu disampingku, bukankah benar bahwa sahabat itu malaikat walau tak bersayap? Sudahlah, abaikan soal itu, sudah berlalu.
“Ya sudah kalau itu membuatmu lebih baik, meski mungkin sakit di satu sisi yang lain.” Sambung Boy. “Aku akan selalu mendukung temanku ini apapun yang terjadi.”
“Terimakasih, Boy. Mungkin kamu sebagian dari banyak malaikat itu.”
Tidak lama setelah itu, banyak sekali berita yang masuk ke telingaku tentang Angga, dari temanya, dari temanku, dari Aditya, dari Badai, bahkan Imam juga demikian. Terakhir adalah kabar dari Johan, teman satu sekolah Angga karena memang aku dan dia beda sekolah. Kami berbincang dalam sebuah jaringan sosial.


Johan_cool : morning… :)
Bemby_cute : morning boy, tak ada angin yang membuatmu tersangkut disini kan? :D ckckck
Johan_cool : ada, tentu ada. Hanya ingin mengintrogasimu tentang sesuatu
Bemby_cute : langsung saja
Johan_cool : ku dengar kau sudah tak bersamanya, what heppend?
Bemby_cute : ya, seperti apa yang kau dengar dan yang tersebar. Kudengar juga gossip itu, dan memang mereka tak jauh bergosip, 90% fakta. Percayai itu saja kawan.
Johan_cool : dia gila, sekarang, sejak saat itu
Bemby_cute : apa peduliku? Aku juga pernah gila, walau sesaat. Dan karena dia yang membuatku hancur. Mengertilah, aku wanita yang pernah benar-benar mencintainya
Johan_cool : aku juga pernah demikian
Bemby_cute : bagus, ku yakin kau memahamiku :) ada yang lain?
Johan_cool : ada, dia menjadi pendiam. Tak pernah hangout bersamaku dan teman2 yang lain, sering melamun, bahkan wajahnya pun kini suram, mungkin hidupnya sekarang juga suram :D hahaha
Bemby_cute : :D hahahahaha tak usah pedulikan perasaan orang itu lagi, dia pun tak peduli padaku
Johan_cool : maksudmu?
Bemby_cute : kalau dia peduli padaku, tentu mau berpikir panjang sebelum berbuat, tak seperti sekarang
Johan_cool : tentu, kau cerdas. I approud with U :*
Bemby_cute : of course, Bemby, sahabatmu :* see ya…dipanggil mama nih.


Dan sejak saat itu, aku tau satu hal lagi tentang Angga, bisa membuatku merenung untuk beberapa menit. Untung saja iblis neraka menolongku dari hayalan singkat itu, dia menyuruhku untuk mengabaikan tentang apa yang baru aku saja pikirkan. Dia hanya masa lalu yang dengan sukses membuatku sakit hati, bahkan sampai saat ini. Iblis itu benar.
Satu bulan, waktu berjalan begitu cepat. Kini saatnya aku dan Angga terima rapor, setelah hampir dua minggu menjalani test kenaikan kelas. Saat itu aku benar-benar lost contact denganya.  Tapi ada kabar bagus darinya, Angga rangking delapan di kelasnya. Itu adalah peringkat terbaik Angga selama aku mengenalnya sejak SMP, bahkan dulu ia termasuk deretan siswa “memperihatinkan” di Sekolah Menengah Pertama. Tak menyangka hal itu terjadi, dan aku bangga padanya. Ternyata dia mampu mewujudkan apa yang aku inginkan, apa yang aku mau, dan kini seperti harapan, meski belum semua. Itu butuh proses. Malam harinya, dia mengirim pesan pendek padaku.

                                  Inbox – Text Message

From        : Angga (+628736353929)
Message :

Bemby, aku dpet rngking 8 di rapor knaikan klas thun ini. Mksi ya, Bem. Berkat kmu smua ini trjadi J aku ga mngkin bisa lakuin ini semua tnpa permintaan dri kmu, yng slalu pengen aq lebih baik dri hari ke hari. Buat aq, itu smangat dari kmu yang ampuh bnget.
Oh ya, satu hal lagi…aku masih mncintaimu. Bhkan sampai kpanpun aku bakalan nunggu kmu. hrapan kmu bles SMSku ini emang kcil, makanya aq nekat ngmg gtu sklain ke kmu. maaf.



Malam itu aku larut dalam kebahagiaanya, aku membalas SMSnya, tak seperti negative thinking-nya dan sejujurnya aku ingin melupakan masalah yang sudah berlalu, walau nyatanya luka itu masih membekas dalam di hatiku. Masih kuingat jelas semua SMS Angga dan Reza yang sempat aku baca di Hp Reza. Namun aku memaksakan diri untuk biasa saja denganya, aku sudah dewasa, harus bisa meletakan tempat ke yang semestinya. Aku lebih memilih Reza, dia sahabatku. Kami tak boleh bertengkar hanya karena masalah lelaki yang tak jelas. Kami dewasa, meski masih dalam belajar, walau di mataku Reza sangat berperan dengan keputusanku yang masih nyata hingga saat ini. Membuatku mengakhiri hubungan denga Angga, sahabat baiku dari tiga tahun lalu, pacarku yang hampir sempurna selama satu tahun. Dan aku berhasil menyingkirkan emosiku pada Angga malam itu, kami SMS-an seperti sepasang sahabat yang tanpa masalah, namun ketika aku berpamitan untuk tidur, Angga malah menembaku lewat pesan singkat balasanya. Jujur, aku malah sakit hati, apa ini namanya orang Jawa menyebut “dikasih hati minta ampela”?

                   Inbox – Text Message

From        : Angga (+628736353929)
Message :

Bem, aku pngen kita balikan. Please, kasih aq ksempatan 1X lgi, dan aku ga akan mngecewakanmu. Aq syng sma kmu, aq ykin dluar sana ga ada yng bisa mnyayangimu sperti syngku padamu.
Tie amo. Gud night.


















Beberapa hari kemudian, aku baru bisa melupakan sakit hati akan pesan pendeknya padaku yang lalu, karena sebuah pertemuan tak sengaja di kantin anak muda tak jauh dekat rumahku. Dalam obrolan kami, ku sadar aku telah melupakan sakit hati yang pernah ia tambahkan ke hatiku melalui sebuah pesan pendek. Mungkin karena aku terlalu merindukanya, sehingga aku dapat amnesia untuk hal itu. Hebat juga si Angga, ya?
“Bemby, apa kabar? Tak kusangka duduk di depan seseorang yang ku puja sore ini. Setelah aku lelah dengan sekolahku yang padat, dari tadi pagi, kemarin juga.”
“Ahh…kamu, sudahlah, abaikan. Aku merasa belum pernah sebaik ini sebelumnya, kamu?.”
“Aku juga, my princess. Merasa lebih baik daripada hidup sepuluh tahun tapi tanpa cintamu.”
“Angga, kamu lebay. Hahahaha.” Aku memaksakan tawa untuk keluar dari bibirku.
“Kehadiranmu dihadapku yang mengajarinya, membuatku kau bilang lebay.”
***sejenak aku hening, kita berdua diam memikirkan apa arti daripada yang Angga katakan baru saja.***
“Sibuk apa sekarang, kau bilang lelah dengan sekolahmu, hari ini dan kemarin. Benarkah?”. Tanyaku hanya untuk mengisi keheningan kami.
 “Iya, ditambah tanpa kehadiranmu di sisiku, padahal biasanya ada kamu yang selalu menemani hariku. Sekolah sedang menyiapkan beberapa siswa untuk mengikuti kompetisi pelajar antar SMA, dan nama mantan kekasihmu ini ada di dalamnya. Bangga?.”
“Sungguh? Sangat….Good luck ya, Ngga. Jangan lupa berdoa sama Tuhan, biar kamu bisa menang. Ilmu tanpa doa itu cacat.” Nasehatku padanya, entah mengapa disini aku merasa masih sangat peduli pada Angga.
“Aku selalu berdoa padaNya, setiap hari. Aku minta kesuksesan menyertaiku, paling tidak keberuntungan mau berteman dengan Angga. Bahkan aku juga menyelipkan namamu di setiap doaku, agar... .”
“Ya, tidak usah kau lanjutkan. Agar aku mau jadi pacarmu lagi, bukan?.” Dengan senyuman hiperbolis aku percaya diri mengatakanya.
“Kau selalu tau, apa yang aku inginkan.” Angga menatap mataku dalam.
“Tapi aku tak bisa mewujudkanya.” Aku yang membuang mukaku ke bawah, menatap segelas milk shake dan aku menyedotnya dalam-dalam, karena tak sanggup aku menatap tajam matanya.
“Kamu hanya belum bisa, bukan berarti tidak bisa, Beiby. Ku mohon, tarik kembali kata-katamu. Aku masih ingin berjuang mewujudkan apa yang kau minta. Untuk kita bersama, sayang. Ku mohon…kembalilah padaku.”

***Hening***

Ternyata, pertemuan kami yang tak sengaja itu, masih sempatnya Angga menembakku untuk kesekian kalinya, dan lagi, aku menolaknya. Sebenarnya bukan menolak, hanya saja belum siap untuk semua kedepan setelah kulihat belakang yang menyakitkan. Benar apa yang Angga katakan. Alhasil, sakit hati muncul lagi, hingga sampai saat ini aku masih sangat membencinya, bukan hanya hari itu saja dia memintaku kembali padanya, tapi sudah berkali-kali. Aku merasa tidak dihargai, dia tak mengerti penjelasanku yang sudah berkali-kali aku lontarkan. Aku merasa dianggap remeh, apa dia berfikir “aku yakin Bemby sudah lupa akan keputusanya kemarin, akan ku coba lagi hari ini”. Iya? Begitu kah, Ngga? Kamu salah! Salah, Angga! Aku masih ingat semuanya, tentang SMS-mu pada Reza, tentang sakit-sakit yang lain yang telah kau ukir dalam di hatiku. Dan saat itu juga aku meninggalkan Angga yang masih duduk tertunduk dalam keheningan kami. Aku memecah keheningan itu, dengan suara kursi plastik yang tak sengaja jatuh karena tasku yang menyentuhnya ketika aku hendak pergi untuk meninggalkan dia.
Benciku padanya semakin dalam mulai hari itu, pesanya tak pernah ku balas, walau itu hanya SMS sapaan biasa, sering aku pura-pura buta ketika berpapasan di jalan, bahkan seketika tanpa pengetahuanku dia menyapaku disebuah toko buku.
“Bemby!” Sambil Angga menepuk pundaku.
“Kita kenal?” Dengan muka tolol.
Kedatanganya adalah suatu kejutan bagiku, sampai-sampai speechless memilihku saat ini, dan hanya itu yang dapat keluar dari bibirku, “Kita kenal?” entah apa yang aku pikirkan hingga “pedang berucap” ini menusuknya sangat dalam. Tak lama setelah pergi dari hadapanya tanpa pamit, kubuka inbox baru dan aku tau itu dari Angga.

Inbox – Text Message

From        : Angga (+628736353929)
Message :

“Kita kenal?” maksud kamu apa, Bem? Uda gmau kenal aku lgi???? Jawab!!!!!!!

Reply                    Forward                    Delete
 
To             : Angga (+628736353929)
Message :

Maaf… I don’t know what should I do T.T
Mulai sekarang aku pengen mengulang hidup yg baru, between U and Me.


Inbox – Text Message

From        : Angga (+628736353929)
Message :

Oke, kalo itu mau kamu Bem. Skali lgi, aku mau kmu tau, that I always love U. Bye. Thank’s.



Dari isi pesan diatas orang normal pasti tau kalau si Angga setuju dengan misiku. Bahwa semua dimulai dai nol lagi. tapi hal kedua yang tidak aku suka dari Angga adalah, dia jarang menepati apa yang sudah dia katakan. Sejak kejadian itu, dia masih saja mengirimku pesan-pesan yang justru membuatku tambah, semakin, amat sangat lebih membencinya dari sebelumnya. Meski terkadang aku merindukanya, berharap teksnya datang ke inbox-ku, tapi setelah semua itu benar-benar terjadi, setelah Tuhan mendengar dan mengabulkan apa yang aku minta, justru malah kebencian membara dan kata-kata kasar ku lontarkan padanya. Aku cuek sama Angga, tapi kenapa dia masih saja sabar menghadapiku? Masih setia dan masih berani datang padaku ketika harimau sedang marah? Dia berani menyapa wanita pra-menstruasi. Hebat! Apa itu yang namanya berani? Apa kamu memang pemberani, Ngga? Jawab, Angga, jawab! Kamu yang berani, kamu yang sabar, kamu yang tidak pernah mengenal putus asa setelah kita putus bahkan hingga saat ini hubunganku menginjak bulan pertama dengan Ben, kamu masih tetap pada pendirianmu tiga bulan lalu saat aku mengakhiri hubungan. Apa kamu tak berubah pikiran? Apa kamu tidak mencari penggantiku saja? Kamu bukanlah seorang buruk rupa, kulitmu tidak gosong, malahan tinggi badanmu hiperbolis, semua tentangmu tidak buruk, aku yakin banyak gadis yang tertarik padamu. Tapi mengapa sampai saat ini tak ku dengar kau dekat dengan siapapun? Jujur, Ngga itu membuatku semakin bersalah sama kamu. Aku sadar akan semua dosa-dosaku ke kamu, semua kesalahan yang sengaja aku lakukan. Tunggu… apa ini karma untuku, Ngga? Karma karena telah menyia-nyiakanmu beberapa waktu lalu? Tapi aku yakin, kamu tidak mengutuku untuk sebuah karma kan, Ngga? aku juga yakin kamu tidak setega itu padaku, karena aku merasakan cinta yang indah darimu. Tapi mengapa semakin hari justru malah perbandingan kamu dengan Ben semakin jelas saja? Banyak hal yang tidak aku dapatkan dari Ben, Ngga. Kamu lebih sempurna, ketahuilah itu. Silahkan berbesar kepala, Angga.
Baik, Ngga. Aku akan menikmati semua sakit yang Tuhan berikan untuk mengingatkan betapa sakitnya kamu waktu lalu, yang kini aku sedang rasakan pula. Denganya, Ben Syafiq pacarku saat ini. Dia tak menyakitiku seperti aku menyakitimu, tapi sakit yang aku rasakan karena kediamanya justru sangat membunuhku, Ngga. Terimakasih, terimakasih kamu sudah meminta padaNya untuk memutar roda kehidupan ini. Puas kamu, Ngga?
Waktu memang sudah berlalu, tapi arti Angga Pratama di hidupku tak mau berlalu. Kenapa? Karena dia terlalu sempurna untuk makhluk penuh dosa sepertiku. Akan kuhapus kamu dari hidupku, benar-benar menghilangkanmu. Dengan paksa, apapun yang terjadi, akan tetap akku lakukan. Aku tidak pernah pantas untukmu, Ngga. Terimakasih sudah menyiapkan tempat yang indah walau hanya untuk aku sakiti. Itu adalah tempat paling indah yang pernah aku singgahi, hatimu. Atau bila semua usahaku gagal setelah tidak ada angka yang dapat dihitung lagi, maka aku ingin kita memulainya lagi dari awal. Dan suatu hari nanti aku akan menyapamu lebih dulu, “Hai, namaku Bemby, apa kita kenal?”

Kamis, 11 Agustus 2011

Tuhan (Apa Kau Mendengarku?)

by, Lupus

Hari ini aku menemuiNya
Aku benar-benar bicara padaNya
Dan aku menginginkan sesuatu dariNya
Tuhan…apa Kau mendengarku?
Aku meminta ini itu,
Apa Kau mendengarku?
Apa Kau mau mengabulkan pintaku?
Atau mungkin,
Kau hanya mendengar, ya, hanya mendengar saja
Tanpa berbuat apa-apa
Aku bicara padaMu, ya Tuhan
Bukan hanya bicara diatas sajadah merah
Atau diantara tembok kubus
Meski aku tau, suara tak terdengar olehMu
Wujud tak tampak yang menggambarkan Kamu
Tapi aku yakin, Kau mendengarku

Semarang, 10 Agustus 2011


DALAM DIAM

by, Lupus

Dalam diam, aku memikirkanmu
Dalam diam, aku berangan tentangmu
Dalam diam, aku mengingat saat kita bersama,
Berdua, dalam dosa yang indah
Wahai lelakiku…
Dalam diam, apa kau juga pikirkanku?
Dalam diam, apa aku selalu ada di benakmu?
Dalam diam, apa kau merasa berdosa akan apa yang pernah kita lakukan?
Wahai kekasihku…
Dalam diam, apa kau ingin meminta maaf padaku untuk sebuah zina?
Dalam diam, apa kau menyesal?
Dalam diam, semua telah terjadi…
Dalam diam, kita sudah pernah berbuat
Dan dalam diam, kita belajar sebuah pengalaman dewasa
Walau agama memvonis dosa

Semarang, 3 Agustus 2011