HALLO!!!

Cinta itu hati yang rasa, bukan panca indera!

Minggu, 14 Agustus 2011

Aku Bemby, Apa Kita Kenal?

by, Lupus

Hari ini aku benar-benar merasa kehampaan yang luar biasa setelah dua puluh lima hari menjalin cinta denganya. Dia adalah Ben Syafiq, lelaki yang tiga tahun lebih tua dariku, berparas tampan, berkulit putih, meski tinggi badanya tak seberapa namun dia banyak di idolakan banyak gadis-gadis disini. Entah kenapa, kutemukan kejanggalan padanya hari ini, atau mungkin bahkan akhir-akhir ini, hanya saja aku baru menyadarinya, sekarang Sabtu, 13 Agusutus. Tak seperti biasanya pula, hari ini dia tak mengirimku sebuah pesan pendek pengantar malam, apa salahku? Apa dosaku padanya? Bahkan harus aku yang memulai mengirim teks pendek padanya.


To             :  my luvly (+628574222111)
Message :

Sayang, jangan lupa sholat…. :)



Namun tiga puluh menit sudah aku menunggu Hand Phone-ku berdering, berharap datang sebuah pesan balasan darinya. Harusnya aku lebih sabar lagi, mungkin tiga puluh menit adalah waktu yang sebentar untuk membalas pesan pendek dariku. Apa aku yang terlalu sabar hari ini?
“Ahh…biasanya juga seperti ini, lama. Beberapa kali saja dia begitu cepat membalas SMS-ku” Gumamku.
Aku mencari-cari dimana salahku padanya, aku mengingat-ingat dosa apa yang telah kulakukan, mungkin aku salah bicara, mungkin bercandaku kelewatan, tapi ingatan itu tak kunjung pulih, apa mungkin aku amnesia? Yang jelas aku masih lupa, atau memang aku tak berbuat apa-apa? Jelaslah, komunikasi saja jarang. Dia sibuk, sebenarnya aku juga sibuk kalau aku mau lebih serius dengan sekolahku sekarang. Tak lebih lima puluh SMS dia kirimkan untuku setiap harinya. Lima puluh? Angka yang tak sedikit, bukan? Namun untuk kelas berbalas pesan dengan seseorang yang istimewa adalah angka yang tak seberapa. Dalam diam, aku justru teringat akan kesalahan-kesalahan yang pernah aku perbuat dengan mantan kekasihku, ingatan itu justru datang di saat yang tak tepat, disaat aku tak menginginkanya. Kenangan itu berputar bagai film, begitu saja tanpa aku memulai mengingatnya dari mana. Dulu aku menyakitinya, bahkan mungkin aku menyia-nyiakan cintanya. Namanya Angga, dia mantan kekasihku, kami putus karena salah paham, mungkin. Sore itu temanku dan juga teman Angga bertanya padaku.
“Bem, Angga kenapa?”
Ya, mereka memanggilku Bemby, karena ayah dan ibuku mendoakanku lewat sebuah nama, Bemby Kurniawan. Bukankah nama adalah doa dari orang tua kita? Itu bukan nama yang buruk bukan? Malah menurutku itu doa terbaik dari mereka. Sebuah doa untuk selama hidupku yang tak sebentar, aku yakin.  Bemby merupakan gabungan dari nama kedua orang tuaku, Belinda dan Billy, sedangkan Kurniawan adalah nama belakang dari ayahku, Billy Kurniawan.
“Memangnya ada apa ya, Boy?” jawabku pada teman yang lebih terkenal dengan nama Boy.
“Hari ini Angga tampak berbeda. Terlihat beban yang ia pikirkan di wajahnya, dan sepertinya dia tak ada masalah dengan teman atau guru lain. Apa itu denganmu?”
“Sepetinya tidak. Kami hanya berteman biasa sekarang. Seperti aku dan kamu. Nothing special between us.”
“Teman? Apa maksudmu, Bem?”.
“Iya, sekarang aku dan Angga hanya berteman. Tidak lebih, mungkin itu lebih baik daripada dia harus “main serong” dengan Reza. Meski Reza teman kita, aku tak suka bila caranya seperti itu. Terlalu menyakitkan bagi seorang remaja dan sahabatnya.”
Nampaknya Boy mengerti apa yang ku maksud, karena tidak lama sebelumnya memang kasus itu mencuat, terdengar oleh banyak teman-temanku, menjadi desas-desus siswa kelas satu SMA. Aku memang yang mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan, meski sempat juga terjadi tawar menawar hubungan dengan Angga. Banyak teman yang menyayangkan tentang apa yang aku ambil dalam hubunganku dengan Angga. Namun di hatiku, sakit karena penghianatan lebih sakit daripada harus bunuh diri menggunakan pisau tumpul.  Apalagi itu terjadi oleh malaikat-malaikat yang selalu disampingku, bukankah benar bahwa sahabat itu malaikat walau tak bersayap? Sudahlah, abaikan soal itu, sudah berlalu.
“Ya sudah kalau itu membuatmu lebih baik, meski mungkin sakit di satu sisi yang lain.” Sambung Boy. “Aku akan selalu mendukung temanku ini apapun yang terjadi.”
“Terimakasih, Boy. Mungkin kamu sebagian dari banyak malaikat itu.”
Tidak lama setelah itu, banyak sekali berita yang masuk ke telingaku tentang Angga, dari temanya, dari temanku, dari Aditya, dari Badai, bahkan Imam juga demikian. Terakhir adalah kabar dari Johan, teman satu sekolah Angga karena memang aku dan dia beda sekolah. Kami berbincang dalam sebuah jaringan sosial.


Johan_cool : morning… :)
Bemby_cute : morning boy, tak ada angin yang membuatmu tersangkut disini kan? :D ckckck
Johan_cool : ada, tentu ada. Hanya ingin mengintrogasimu tentang sesuatu
Bemby_cute : langsung saja
Johan_cool : ku dengar kau sudah tak bersamanya, what heppend?
Bemby_cute : ya, seperti apa yang kau dengar dan yang tersebar. Kudengar juga gossip itu, dan memang mereka tak jauh bergosip, 90% fakta. Percayai itu saja kawan.
Johan_cool : dia gila, sekarang, sejak saat itu
Bemby_cute : apa peduliku? Aku juga pernah gila, walau sesaat. Dan karena dia yang membuatku hancur. Mengertilah, aku wanita yang pernah benar-benar mencintainya
Johan_cool : aku juga pernah demikian
Bemby_cute : bagus, ku yakin kau memahamiku :) ada yang lain?
Johan_cool : ada, dia menjadi pendiam. Tak pernah hangout bersamaku dan teman2 yang lain, sering melamun, bahkan wajahnya pun kini suram, mungkin hidupnya sekarang juga suram :D hahaha
Bemby_cute : :D hahahahaha tak usah pedulikan perasaan orang itu lagi, dia pun tak peduli padaku
Johan_cool : maksudmu?
Bemby_cute : kalau dia peduli padaku, tentu mau berpikir panjang sebelum berbuat, tak seperti sekarang
Johan_cool : tentu, kau cerdas. I approud with U :*
Bemby_cute : of course, Bemby, sahabatmu :* see ya…dipanggil mama nih.


Dan sejak saat itu, aku tau satu hal lagi tentang Angga, bisa membuatku merenung untuk beberapa menit. Untung saja iblis neraka menolongku dari hayalan singkat itu, dia menyuruhku untuk mengabaikan tentang apa yang baru aku saja pikirkan. Dia hanya masa lalu yang dengan sukses membuatku sakit hati, bahkan sampai saat ini. Iblis itu benar.
Satu bulan, waktu berjalan begitu cepat. Kini saatnya aku dan Angga terima rapor, setelah hampir dua minggu menjalani test kenaikan kelas. Saat itu aku benar-benar lost contact denganya.  Tapi ada kabar bagus darinya, Angga rangking delapan di kelasnya. Itu adalah peringkat terbaik Angga selama aku mengenalnya sejak SMP, bahkan dulu ia termasuk deretan siswa “memperihatinkan” di Sekolah Menengah Pertama. Tak menyangka hal itu terjadi, dan aku bangga padanya. Ternyata dia mampu mewujudkan apa yang aku inginkan, apa yang aku mau, dan kini seperti harapan, meski belum semua. Itu butuh proses. Malam harinya, dia mengirim pesan pendek padaku.

                                  Inbox – Text Message

From        : Angga (+628736353929)
Message :

Bemby, aku dpet rngking 8 di rapor knaikan klas thun ini. Mksi ya, Bem. Berkat kmu smua ini trjadi J aku ga mngkin bisa lakuin ini semua tnpa permintaan dri kmu, yng slalu pengen aq lebih baik dri hari ke hari. Buat aq, itu smangat dari kmu yang ampuh bnget.
Oh ya, satu hal lagi…aku masih mncintaimu. Bhkan sampai kpanpun aku bakalan nunggu kmu. hrapan kmu bles SMSku ini emang kcil, makanya aq nekat ngmg gtu sklain ke kmu. maaf.



Malam itu aku larut dalam kebahagiaanya, aku membalas SMSnya, tak seperti negative thinking-nya dan sejujurnya aku ingin melupakan masalah yang sudah berlalu, walau nyatanya luka itu masih membekas dalam di hatiku. Masih kuingat jelas semua SMS Angga dan Reza yang sempat aku baca di Hp Reza. Namun aku memaksakan diri untuk biasa saja denganya, aku sudah dewasa, harus bisa meletakan tempat ke yang semestinya. Aku lebih memilih Reza, dia sahabatku. Kami tak boleh bertengkar hanya karena masalah lelaki yang tak jelas. Kami dewasa, meski masih dalam belajar, walau di mataku Reza sangat berperan dengan keputusanku yang masih nyata hingga saat ini. Membuatku mengakhiri hubungan denga Angga, sahabat baiku dari tiga tahun lalu, pacarku yang hampir sempurna selama satu tahun. Dan aku berhasil menyingkirkan emosiku pada Angga malam itu, kami SMS-an seperti sepasang sahabat yang tanpa masalah, namun ketika aku berpamitan untuk tidur, Angga malah menembaku lewat pesan singkat balasanya. Jujur, aku malah sakit hati, apa ini namanya orang Jawa menyebut “dikasih hati minta ampela”?

                   Inbox – Text Message

From        : Angga (+628736353929)
Message :

Bem, aku pngen kita balikan. Please, kasih aq ksempatan 1X lgi, dan aku ga akan mngecewakanmu. Aq syng sma kmu, aq ykin dluar sana ga ada yng bisa mnyayangimu sperti syngku padamu.
Tie amo. Gud night.


















Beberapa hari kemudian, aku baru bisa melupakan sakit hati akan pesan pendeknya padaku yang lalu, karena sebuah pertemuan tak sengaja di kantin anak muda tak jauh dekat rumahku. Dalam obrolan kami, ku sadar aku telah melupakan sakit hati yang pernah ia tambahkan ke hatiku melalui sebuah pesan pendek. Mungkin karena aku terlalu merindukanya, sehingga aku dapat amnesia untuk hal itu. Hebat juga si Angga, ya?
“Bemby, apa kabar? Tak kusangka duduk di depan seseorang yang ku puja sore ini. Setelah aku lelah dengan sekolahku yang padat, dari tadi pagi, kemarin juga.”
“Ahh…kamu, sudahlah, abaikan. Aku merasa belum pernah sebaik ini sebelumnya, kamu?.”
“Aku juga, my princess. Merasa lebih baik daripada hidup sepuluh tahun tapi tanpa cintamu.”
“Angga, kamu lebay. Hahahaha.” Aku memaksakan tawa untuk keluar dari bibirku.
“Kehadiranmu dihadapku yang mengajarinya, membuatku kau bilang lebay.”
***sejenak aku hening, kita berdua diam memikirkan apa arti daripada yang Angga katakan baru saja.***
“Sibuk apa sekarang, kau bilang lelah dengan sekolahmu, hari ini dan kemarin. Benarkah?”. Tanyaku hanya untuk mengisi keheningan kami.
 “Iya, ditambah tanpa kehadiranmu di sisiku, padahal biasanya ada kamu yang selalu menemani hariku. Sekolah sedang menyiapkan beberapa siswa untuk mengikuti kompetisi pelajar antar SMA, dan nama mantan kekasihmu ini ada di dalamnya. Bangga?.”
“Sungguh? Sangat….Good luck ya, Ngga. Jangan lupa berdoa sama Tuhan, biar kamu bisa menang. Ilmu tanpa doa itu cacat.” Nasehatku padanya, entah mengapa disini aku merasa masih sangat peduli pada Angga.
“Aku selalu berdoa padaNya, setiap hari. Aku minta kesuksesan menyertaiku, paling tidak keberuntungan mau berteman dengan Angga. Bahkan aku juga menyelipkan namamu di setiap doaku, agar... .”
“Ya, tidak usah kau lanjutkan. Agar aku mau jadi pacarmu lagi, bukan?.” Dengan senyuman hiperbolis aku percaya diri mengatakanya.
“Kau selalu tau, apa yang aku inginkan.” Angga menatap mataku dalam.
“Tapi aku tak bisa mewujudkanya.” Aku yang membuang mukaku ke bawah, menatap segelas milk shake dan aku menyedotnya dalam-dalam, karena tak sanggup aku menatap tajam matanya.
“Kamu hanya belum bisa, bukan berarti tidak bisa, Beiby. Ku mohon, tarik kembali kata-katamu. Aku masih ingin berjuang mewujudkan apa yang kau minta. Untuk kita bersama, sayang. Ku mohon…kembalilah padaku.”

***Hening***

Ternyata, pertemuan kami yang tak sengaja itu, masih sempatnya Angga menembakku untuk kesekian kalinya, dan lagi, aku menolaknya. Sebenarnya bukan menolak, hanya saja belum siap untuk semua kedepan setelah kulihat belakang yang menyakitkan. Benar apa yang Angga katakan. Alhasil, sakit hati muncul lagi, hingga sampai saat ini aku masih sangat membencinya, bukan hanya hari itu saja dia memintaku kembali padanya, tapi sudah berkali-kali. Aku merasa tidak dihargai, dia tak mengerti penjelasanku yang sudah berkali-kali aku lontarkan. Aku merasa dianggap remeh, apa dia berfikir “aku yakin Bemby sudah lupa akan keputusanya kemarin, akan ku coba lagi hari ini”. Iya? Begitu kah, Ngga? Kamu salah! Salah, Angga! Aku masih ingat semuanya, tentang SMS-mu pada Reza, tentang sakit-sakit yang lain yang telah kau ukir dalam di hatiku. Dan saat itu juga aku meninggalkan Angga yang masih duduk tertunduk dalam keheningan kami. Aku memecah keheningan itu, dengan suara kursi plastik yang tak sengaja jatuh karena tasku yang menyentuhnya ketika aku hendak pergi untuk meninggalkan dia.
Benciku padanya semakin dalam mulai hari itu, pesanya tak pernah ku balas, walau itu hanya SMS sapaan biasa, sering aku pura-pura buta ketika berpapasan di jalan, bahkan seketika tanpa pengetahuanku dia menyapaku disebuah toko buku.
“Bemby!” Sambil Angga menepuk pundaku.
“Kita kenal?” Dengan muka tolol.
Kedatanganya adalah suatu kejutan bagiku, sampai-sampai speechless memilihku saat ini, dan hanya itu yang dapat keluar dari bibirku, “Kita kenal?” entah apa yang aku pikirkan hingga “pedang berucap” ini menusuknya sangat dalam. Tak lama setelah pergi dari hadapanya tanpa pamit, kubuka inbox baru dan aku tau itu dari Angga.

Inbox – Text Message

From        : Angga (+628736353929)
Message :

“Kita kenal?” maksud kamu apa, Bem? Uda gmau kenal aku lgi???? Jawab!!!!!!!

Reply                    Forward                    Delete
 
To             : Angga (+628736353929)
Message :

Maaf… I don’t know what should I do T.T
Mulai sekarang aku pengen mengulang hidup yg baru, between U and Me.


Inbox – Text Message

From        : Angga (+628736353929)
Message :

Oke, kalo itu mau kamu Bem. Skali lgi, aku mau kmu tau, that I always love U. Bye. Thank’s.



Dari isi pesan diatas orang normal pasti tau kalau si Angga setuju dengan misiku. Bahwa semua dimulai dai nol lagi. tapi hal kedua yang tidak aku suka dari Angga adalah, dia jarang menepati apa yang sudah dia katakan. Sejak kejadian itu, dia masih saja mengirimku pesan-pesan yang justru membuatku tambah, semakin, amat sangat lebih membencinya dari sebelumnya. Meski terkadang aku merindukanya, berharap teksnya datang ke inbox-ku, tapi setelah semua itu benar-benar terjadi, setelah Tuhan mendengar dan mengabulkan apa yang aku minta, justru malah kebencian membara dan kata-kata kasar ku lontarkan padanya. Aku cuek sama Angga, tapi kenapa dia masih saja sabar menghadapiku? Masih setia dan masih berani datang padaku ketika harimau sedang marah? Dia berani menyapa wanita pra-menstruasi. Hebat! Apa itu yang namanya berani? Apa kamu memang pemberani, Ngga? Jawab, Angga, jawab! Kamu yang berani, kamu yang sabar, kamu yang tidak pernah mengenal putus asa setelah kita putus bahkan hingga saat ini hubunganku menginjak bulan pertama dengan Ben, kamu masih tetap pada pendirianmu tiga bulan lalu saat aku mengakhiri hubungan. Apa kamu tak berubah pikiran? Apa kamu tidak mencari penggantiku saja? Kamu bukanlah seorang buruk rupa, kulitmu tidak gosong, malahan tinggi badanmu hiperbolis, semua tentangmu tidak buruk, aku yakin banyak gadis yang tertarik padamu. Tapi mengapa sampai saat ini tak ku dengar kau dekat dengan siapapun? Jujur, Ngga itu membuatku semakin bersalah sama kamu. Aku sadar akan semua dosa-dosaku ke kamu, semua kesalahan yang sengaja aku lakukan. Tunggu… apa ini karma untuku, Ngga? Karma karena telah menyia-nyiakanmu beberapa waktu lalu? Tapi aku yakin, kamu tidak mengutuku untuk sebuah karma kan, Ngga? aku juga yakin kamu tidak setega itu padaku, karena aku merasakan cinta yang indah darimu. Tapi mengapa semakin hari justru malah perbandingan kamu dengan Ben semakin jelas saja? Banyak hal yang tidak aku dapatkan dari Ben, Ngga. Kamu lebih sempurna, ketahuilah itu. Silahkan berbesar kepala, Angga.
Baik, Ngga. Aku akan menikmati semua sakit yang Tuhan berikan untuk mengingatkan betapa sakitnya kamu waktu lalu, yang kini aku sedang rasakan pula. Denganya, Ben Syafiq pacarku saat ini. Dia tak menyakitiku seperti aku menyakitimu, tapi sakit yang aku rasakan karena kediamanya justru sangat membunuhku, Ngga. Terimakasih, terimakasih kamu sudah meminta padaNya untuk memutar roda kehidupan ini. Puas kamu, Ngga?
Waktu memang sudah berlalu, tapi arti Angga Pratama di hidupku tak mau berlalu. Kenapa? Karena dia terlalu sempurna untuk makhluk penuh dosa sepertiku. Akan kuhapus kamu dari hidupku, benar-benar menghilangkanmu. Dengan paksa, apapun yang terjadi, akan tetap akku lakukan. Aku tidak pernah pantas untukmu, Ngga. Terimakasih sudah menyiapkan tempat yang indah walau hanya untuk aku sakiti. Itu adalah tempat paling indah yang pernah aku singgahi, hatimu. Atau bila semua usahaku gagal setelah tidak ada angka yang dapat dihitung lagi, maka aku ingin kita memulainya lagi dari awal. Dan suatu hari nanti aku akan menyapamu lebih dulu, “Hai, namaku Bemby, apa kita kenal?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan tinggalkan komentar :)