HALLO!!!

Cinta itu hati yang rasa, bukan panca indera!

Kamis, 15 September 2011

Kronologis Sera Di Rumah Sakit Ayah. (Part l)

Pagi ini aku seperti biasanya, sarapan pagi hanya beberapa suap saja karena tak ada waktu lama, baru saja aku mendapat telepon dari rumah sakit bahwa ada pasien kecelakaan yang harus dioperasi hari ini. Seperti biasa, hari-hariku sibuk dengan para suster, perawat, stetoskop, jas putih, dan alat-alat bedah. Aku tak memiliki feeling apapun, juga tak mimpi apapun semalam. Aku mulai menuju tempat kerjaku.
Alexander  Cristine, sebuha tulisan yang selalu aku baca tatkala melihat jam tanganku yang sedang menunjukan pukul 11.00 WIB setelah aku melakukan operasi yang alhamdulillah berjalan dengan lancar. Menjelang siang  aku menuju ruang kerjaku sekedar untuk menulis agenda kerjaku sejak pagi tadi. Namun di sela langkahku menuju ruangan, ku lihat wajah yang tak asing bagiku, menangis tertunduk lesu di depan kamar jenazah.
“Maaf, apa anda Sera?”, aku yang masih mencoba menyamakan wajah wanita itu dengan Sera, teman SMP ku dulu.
“He-le-na?”, ia mengeja name tage yang tertempel di dadaku.
Tak butuh waktu lama, ia memeluku dengan erat. Dari sini aku yakin bahwa wanita muda itu  adalah Sera, musuh bebuyutanku dulu. Aku yang tak mampu berbuat apa-apa, juga tak mungkin menghindari pelukanya hanya bisa pasrah dan menunggu ia melepaskan pelukanya dariku, sekitar tiga menit ia tak kunjung mengurai dekapan eratnya dari tubuhku sampai-sampai aku terbawa oleh isak tangisnya yang membekukan seluruh tubuhku. Aku juga sejenak melupakan sejarah tentang kami sewaktu umur kami masih kurang dari lima belas  tahun dulu. Sera Gunawan, siswi SMP Tunas Bangsa putri tunggal dar Dimas Gunawan dan Yanti Gunawan itu sangat terkenal. Siapa yang tak tau keluarganya? Harta mereka? Bahkan hanya orang bodoh yang tak tau nama perusahaan ayahnya yang saban hari muncul di televisi. Ia perempuan yang cantik bersih, tinggi langsing, putih mulus bahkan akan ku akui dia sempurna bila saja sikap dan perilakunya terpuji. Ya mungkin itu namanya tak  ada manusia yang tak sempurna. Sera gadis yang sombong, manja, dan selalu menganggap rendah setiap orang yang ia lihat, mungkin karena orang tua dan harta mereka, atau mungkin karena Sera saja yang sangat membanggakan harta milik ayahnya. Ayahnya, Dimas Gunawan adalah sesosok pemimpin yang baik hati, bijaksana, dan juga sederhana, hampir sama denga istrinya Yanti Gunawan. Mereka adalah pasangan yang sempurna, namun bagaimana dengan keluarga mereka? Setelah ditambah dengan Sera?
Beberapa menit berlalu, aku terpaksa melepas pelukan Sera karena nampaknya Sera tak kunjung sadar akan apa yang tengah ia lakukan di tempat umum itu. Ku gandeng tanganya menuju kantin rumah sakit tanpa sepatah kata pun. Aku masih tak tau harus berbuat apa? Ingin menanyakan apa yang terjadi, rasanya tak pantas untuk terlalu jauh mencampuri urusan Sera yang dulu juga tak berteman baik denganku. Kami duduk di meja nomor 5, memesan dua gelas orange juice dan ku mulai menyapanya, mungkin basa-basi.
“Sera, apa kabar? Lama tidak bertemu.”
“Sangat buruk untuk dua puluh tiga tahun terakhir, Hel.” Tatapan Sera tak lepas dari gelas yang sedang ia minum, setengah melamun.
“Kau tak tanyakan mengapa aku ada disini, Helena? Mengapa juga aku menangis sendiri di rumah sakit ayahmu ini”, sambung Sera.
“Sesungguhnya, Sera. Namun aku merasa tak pantas mencampuri urusanmu terlalu jauh. Tapi, bila kau mau berbagi, maka aku akan senang hati.”
Tak lama setalah aku menjawab pertanyaanya, Sera mulai bercerita tentang apa yang ia alami selama lima bulan terakhir, yang membuatnya seperti sekarang pula, menangis di rumah sakit ayah. Aku mendengarkan kronologisnya dengan seksama, dan melupakan semua masa lalu kami berdua. Aku sadar, aku dan dia sudah dewasa. Kami sudah dua puluh tiga tahun. Ternyata ayahnya, Dimas Gunawan meninggalkan Sera tepat satu hari menuju ulang tahunya pada Januari lalu. Semua jadwal acara yang sudah matang disusun hancur begitu saja dan menyebabkan kerugian puluhan juta rupiah, namun keluarga Gunawan tidak peduli. Hanya puluhan juta saja, bagi mereka uang adalah benda yang harus mencari mereka. Bukan mereka yang harus mencari uang tersebut. Sera shock berat atas kepergian ayah yang  paling dikasihinya. Manusia satu-satunya yang memperlakukan Sera bak Cleopatra, mungkin kalau Tuhan itu banyak, ayahnya lah Tuhan pertama dalam hidup Sera.  Ibunya, Yanti Gunawan bahkan sudah setegah gila semenjak kejadian itu. Sera semakin khawatir dengan keadaan itu, berbagai metode pengobatan dari yang tradisional hingga modern ia ikuti demi pulihnya kesehatan akal ibunya, ia juga tinggalkan bangku kuliah untuk itu. Milyaran rupiah sudah ia bayarkan untuk para dokter yang mau mencoba membantu kesembuhan ibunya dalam dua bulan pertama, namun hasilnya nol. Sera belum putus asa, kesana kemari ia browsing iklan mencari dokter, ahli pengobatan, bahkan yayasan terapi demi kesembuhan sang ibu. Sebuah situs internet dari sebuah rumah sakit ternama Singapura manawarkan pengobatan pada ibunya, Sera menaruh harapan besar pada rumah sakit itu. Karena memang tim medis disana sudah diakui di mata dunia. Tiga hari kemudian, Sera membawa ibunya untuk berobat ke Singapura.
Singapore Health Litter Center, sebuah rumah sakit khusus saraf yang ia datangi kala itu, bersama dokter George Smith, ia percayakan hidup Yanti Gunawan sepenuhnya, berapapun biayanya. Ternyata dari analisis tim medis, penyakit ibunya itu sangat langka. Mungkin hanya 7 dari 8 orang yang terserang penyakit saraf tersebut. Sudah pasti biaya pengobatan ibunya sangat mahal, apalagi di negeri orang, kini hampir satu bulan berada di Singapura, harta keluarga Gunawan hampir habis. Satu-satunya harapan sebagai sumber dana untuk pengobatan ibunya adalah perusahaan biskuit milik almarhum ayahnya. Sera berpikir untuk menjual saham perusahaan itu, tanpa berpikir panjang ia mengiklankanya melalui internet dengan harapan dapat dibeli oleh orang asing yang mampu membayarnya dengan harga lebih mahal. Benar saja, tak lama kemudian perusahaan Gunawan itu laku di tangan orang Jakarta, meleset jauh dengan apa yang ia harapkan, selain itu harganya pun juga tak terlalu tinggi, hanya cukup untuk pengobatan ibunya selama di Singapura. Namun Sera tak peduli, yang penting adalah kesehatan ibunya.
Dua hari ia ke Jakarta mengurus surat-surat penting dan meninggalkan ibunya yang koma ditangan tim medis tempat ibunya dirawat cukup membuat Sera tenang, karena ibunya berada bersama tim medis kelas dunia, sehingga ia dapat menjalankan bisnis dengan lancar. Dua hari berakhir, saatnya Sera kambali ke pengobatan ibunya, tinggal menunggu Garuda Indonesia mengantarnya ke Negeri Singa pukul 11.00 WIB, padahal sejak pagi tadi pihak rumah sakit menelepon Sera untuk melangsungkan operasi hari itu juga, maksud hati Sera ingin menemani ibunya operasi, namun keadaanya semakin buruk bila harus menunggu kedatangan Sera, kekhawatiran tentu muncul pada Sera juga dari tim dokter. Akhirnya Sera merelakan ibunya dioperasi tanpa ia di sampingnya, lagi pula Sera sudah mentransfer sejumlah uang untuk membayar operasi ibunya dari Jakarta. Waktu pemberangkatan pun tiba, Sera nampak resah dan gelisah. Ia tak mau sesuatu yang buruk terjadi pada ibunya, ingin rasanya cepat sampai di Singapura, mendatangi ibunya, mencium keningnya, dan  selalu ada ketika Yanti Gunawan tertidur pulas.
Sesampainya di rumah sakit, operasi sudah berjalan dan hasilnya…

**********Bersambung**********


Sabtu, 10 September 2011

Hiden Love Story Between Keong Emas, Dayang Sumbi, Timun Emas, and Sangkuriang (gambar dari kiri ke kanan)


Minggu pagi di hutan belantara yang lebat, angin berhembus sedang, terik yang menyinari, dan Sangkuriang yang menikmati akhir pekanya untuk menyalurkan hobi, berburu. Ya, dari kecil ia sangat gemar berburu, hingga tak heran ia lihai menarik dan menembakan anak panah dari panah kesayanganya itu. Tak ada yang berbeda dari cara Sangkuriang berburu dari waktu ke waktu, meski sesekali ia mencoba hal baru. Bedanya, sewaktu ia kecil selalu ditemani anjing kesayanganya, Tumang yang telah mati di tanganya sendiri sewaktu ia kecil dulu. Sangkuriang adalah seorang pria muda tampan, berpostur tubuh tinggi, kekar, dan pemberani. Ia selalu disegani oleh semua wanita yang melihatnya, namun Sangkuriang tak pernah tertarik oleh wanita manapun sebelum ia bertemu dengan Dayang Sumbi ketika ia sedang berburu di tengah hutan, tersesat dan berlindung di sebuah gubug tua yang tak lain adalah kediaman Dayang Sumbi.
“Maliiiiiinggg….maliiingg….maaallingg!!!.” Pagi itu teriakan Dayang Sumbi mengejutkan Sangkuriang yang sedang tidur di pelataran rumahnya.
“Bukan! Bukan! Saya bukan maling! Maafkan aku tanpa ijin menginap tidur disini. Kenalkan, namaku Sangkuriang, aku sedang berburu di hutan ini namun tak tau kemana arah pulang. Hingga larut malam dan menemukan rumahmu disini.”
Melihat sosok pria tampan dihadapnya, Dayang Sumbi langsung percaya bahwa ia pasti tak punya niat jahat kepadanya.
“Aku Dayang Sumbi.” Perkenalan itu dimulai, “Maaf, gubug ini terlalu jelek untuk pria setampan anda.”
“Iya, namun pemiliknya secantik bidadari yang aku impikan. Ijinkan ku pinang kau dengan bismillah.” Dengan keyakinan penuh Sangkuriang menyatakan keinginanya pada Dayang Sumbi, karena ia juga terlalu yakin bahwa Dayang Sumbi hidup sendiri.
“Apa? Apa aku tak salah mendengar? Mungkin bila terjadi, justru kau meminangku dengan musibah, tuan. Aku seorang janda. Bahkan baru sepuluh menit yang lalu kita mulai bertemu, dan di menit yang kesebelas, kau ingin menikahiku. Apa kau yakin?”
“Sangat yakin, mataku tak pernah bohong melihat semua warna yang ada di dunia ini. Lidahku tak pernah bohong menilai masakan sejuta koki, dan kini ku yakin hatiku takan pernah bohong untuk memilihmu.”
Luluh sudah hati dan perasaan Dayang Sumbi yang sekian tahun tidak merasakan cinta dari siapa saja, meski banyak yang mengejarnya, dari duda kaya hingga saudagar tua iya tolak dengan seksama. Hari itu juga, Dayang Sumbi menerima lamaran Sangkuriang dan akan menikah tak lama lagi. Satu mingu berlalu, Dayang Sumbi banyak mendapat kejanggalan dari Sangkuriang. Mulai dari namanya yang mirip dengan anak yang dulu pernah ia usir, hingga bekas luka di kepala akibat kemarahanya pada anaknya dulu. Suatu hari semua terbongkar jelas, ia memberanikan diri untuk berbicara masalah itu pada calon suaminya, Sangkuriang dan Sangkuriag mencocokanya dengan apa yang dulu pernah ia alami. Ternyata benar  mereka adalah ibu dan anak yang puluhan tahun terpisah. Namun keduanya melanjutkan tekat untuk tetap menikah karena cinta.
Dua tahun menikah, mereka belum juga mendapat keturunan tak seperti apa yang mereka idamkan-idamkan, hingga pada suatu malam saat mereka berdoa, munculah sesosok Buto Ijo yang menyapa.
“Hai manusia, aku mendengar semua doa dan pintamu. Tenang saja, akan aku kabulkan. Huaa…ha…ha…ha”
“Si-sii-siappaa kam-kaaa-muu?.” Tanya Sangkuriang.
“Aku Buto Ijo yang selama ini mengawasi kalian di hutan ini. Karena kalian cukup baik dan menjaga hutanku, akan aku kabulkan satu permintaanmu itu.”
“Ap-ap apa syaratnya wa-wa-wahai Buto?”
“Tak perlu syarat apapun, aku bukanlah Buto Ijo yang sering muncul di dongeng kalian sewaktu kanak-kanak dulu. Aku membantu kalian dengan niat yang tulus. Malam ini tidurlah dengan berdiri, maka besok pagi Dayang Sumbi akan segera hamil.”
Wussssss....Buto Ijo pergi begitu saja bersama angin yang melewati rumah Dayang Sumbi. Akhirnya Dayang Sumbi dan Sangkuriang memutuskan untuk mencoba usaha itu, dan ternyata benar apa kata Buto Ijo. Sembilan bulan kemudian Dayang Sumbi melahirkan seoang anak perempuan yang cantik jelita diberi nama Timun Emas.
----Tujuh Belas tahun kemudian---

Timun tumbuh menjadi wanita dewasa yang sangat anggun dan menawan, kecantikanya tak dapat dipungkiri sehingga Sangkuriang, ayahnya sendiri jatuh cinta kepadanya.
“Istriku, anak kita kini tumbuh menjadi wanita yang luar biasa. Dia cantik, menarik, pria mana yang tak tergoda? Aku tak rela siapapun memilikinya.”
“Apa maksud ucapanmu, suamiku? Timun Emas memang gadis yang luar biasa, hatinya pun sangat baik, dia harus mendapatkan suami sepertimu.”
“Aku akan menikahinya.”
“Apa?!” Dayang Sumbi sangat terkejut mendengar pernyataan suaminya.
“Ya, akan ku nikahi Timun Emas, aku akan menjaganya dengan baik, sayang. Karena aku tak yakin dengan semua pria jaman sekarang. Bagaiamana denganmu?”
Mendengar pernyataan Sangkuriang, Dayang Sumbi merasa tak dihargai dan tak diinginkan lagi, sehingga ia meminta Sangkuriang untuk memilih antara Dayang Sumbi atau Timun Emas yang akan menjadi istrinya. Dan ternyata Sangkuriang lebih memilih Timun Emas ketimbang Dayang Sumbi, betapa hancur hati Dayang Sumbi saat itu, dan ia memilih pergi meninggalkan anak dan suaminya yang sah menjadi sepasang suami-istri di keesokan harinya.
Kini, Dayang Sumbi hidup sebatang kara di hutan seberang. Di usianya yang makin tua malah tidak ada seorangpun yang menghiasi sisa hidupnya. Suaminya, Sangkuriang lebih memilih anaknya, Timun Emas yang lebih muda dan cantik ketimbang ia yang sudah tua dan makin keriput saja. Makan, mencuci, tidur, bahkan mencari bahan makanan di hutan ia lakukan sendiri setiap hari. Atau bila bermalas-malasan, sudah pasti ia tidak akan menelan apapun ke dalam perutnya.
Pagi itu, seperti biasa Dayang Sumbi pergi ke sungai untuk memancing ikan agar tetap dapat bertahan hidup, dan ketika menunggu mata kail dengan penuh pengharapan agar ia bisa makan ikan hari itu, ia memandangi cahaya berkilauan di seberang sungai. Ia menghampiri  berniat mengambilnya.
“Waaww….ini keong emas. Akan ku bawa pulang benda ini, siapa tau ia dapat berubah menjadi wanita cantik baik hati yang bisa membantu hidupku ini.”
Tak lama setelah itu, Dayang Sumbi membawa pulang seekor keong emas dengan penuh imajinasi. Ia teringat pada dongeng “Keong Emas” masa kecilnya, bahwa ketika mbok rondo memelihara keong emas dirumahnya, semua pekerjaanya dikerjakan oleh si keong dan hidupnya menjadi jauh lebih baik. Tak usah susah payah bekerja, semua sudah tersedia.
“Hmb…akan ku letakan kau disini tuan putri.” Sambil membersihkan dasar gentong di dapurnya yang sangat kotor, “Jangan sungkan-sungkan kalau mau berubah. Nanti siapkan makanan buat saya ya, keong. Sekalian, kamar tidur saya sangat berantakan, tolong diberesi. Sengaja aku berpesan, supaya kau tak berpikir panjang akan pekerjaan apa yang akan kau lakukan disini, keong emas.”
Lalu Dayang Sumbi meninggalkan keong emas di gentongnya, dan benar saja si keoang emas benar-benar berubah menjadi wanita cantik. Namun…
“Haloo, spaaaaaadaaa….kemana sih yang punya kandang ayam ini?” Gumam Keong Emas.
Mendengar suara itu Dayang Sumbi yakin bahwa itu adalah Putri Keong Emas, benar saja memang iya.
“Ka-ka-kamu putri dari keong emas tadi, kan?”
“Iya, kamu siapa? Dimana pemilik kandang ayam ini, bu?”
“Saya,Putri. Saya pemilik gubug tua ini.” Dengan wajah penuh pengharapan, bahwa Keong Emas pasti segera merubah rumah kandang ayamnya itu dengan rumah mewah.
“Ya ampun, hari gini manusia masih bisa hidup di kandang ayam toh, buk? Ah…masa bodoh, tolong siapkan aku makanan. Aku lapar semenjak disungai tadi. Lagi mau nyari makan kok malah diajakin ke kandang ayam ini, ya sekarang ibu harus tanggung jawab.”
Ternyata, Dayang Sumbi mengasuh keong yang salah, tak seperti apa yang sudah dia harapkan lengkap dengan permintaanya yang tidak-tidak.
“Loh, kok saya sih, Putri? Bukanya putri ini adalah anak raja yang dikutuk penyihir jahat menjadi keong emas? Jadi, pasti kamu sakti. Sehingga dapat meyediakan makanan enak untuk kita berdua.”
“Apa?! Plis deh, ibuk jangan sok tau. Saya ini memang terkutuk karena dulunya berani sama orang tua, nah kutukan saya berakhir setelah ada yang mau menolong saya. Ibuk kan sudah menolong saya tadi, dan membawanya kemari, jadi bebas deh.”
“Jadi kamu bukan putri yang bisa menyihir semuanya menjadi lebih baik?” Nampaknya penyesalan mulai terlihat dari nada bicara Dayang Sumbi kepada Keong Emas.
“Ya bukan lah buk, makanya jangan terlalu percaya sama dongeng jaman Meghanthropus. Sudah, buatkan saya makanan! Yang enak! Sekarang saya tinggal disini selamanya.”
Dan mulai saat itu, justru Dayang Sumbi yang makin tua malah menjadi tukang suruh Si Keong Emas yang jauh dari apa yang ia harapkan. Hidupnya makin susah, salah sedikit Keong Emas pasti marah. “Sudah jatuh tertimpa tangga” itu sangat menggambarkan keadaan Dayang Sumbi.

Jumat, 09 September 2011

Suka Cita Dalam Cinta

Ingat semua tentangmu adalah luka dan kebodohanku
Skenario lama yang kau mainkan, tak membuatku sadar akan sebuah penipuan
Aku berusaha untuk tak katakan menyesal
Tapi hati, pikiran, dan bibirku tak terkendali
Ku katakan pada mereka aku menyesal
Ku pikirkan semua tentangmu aku menyesal
Dan pernah mencitaimu aku menyesal
Satu hal yang membuatku sadar adalah kebodohanmu sendiri
Terlalu bodoh memutar fakta hingga jelas kurasa kecuranganya
Kau minta aku meninggalkanmu yang tak sempurna
Kau minta aku denganya yang istimewa
Lalu memojokanku yang tak berdaya
Aku sadar, bukan orang yang kau ingini
Bukan dia, ratu bidadarimu yang kau puji
Hingga kau mencari sela ‘tuk tinggalkanku sendiri
Siapa yang salah?
Kamu yang tak pandai mengarang cerita
Atau aku yang tak sadar rekayasa
Sudahlah manusia hina, kejar saja dia yang kau puja
Hingga sakit terluka dapat kau rasa
Dan untuku, tak ingin melihat belakang
Jika depan masih ada…
Terimakasih Bunda, Kau tunjukan siapa dia
Kau buka semua mata yang ku punya
Bahkan Kau juga buka hatiku…
Kulihat dia seaslinya, kusadari dia yang sebenarnya
Aku bahagia, meski luka sudah melanda…