Pagi ini aku seperti biasanya, sarapan pagi hanya beberapa suap saja karena tak ada waktu lama, baru saja aku mendapat telepon dari rumah sakit bahwa ada pasien kecelakaan yang harus dioperasi hari ini. Seperti biasa, hari-hariku sibuk dengan para suster, perawat, stetoskop, jas putih, dan alat-alat bedah. Aku tak memiliki feeling apapun, juga tak mimpi apapun semalam. Aku mulai menuju tempat kerjaku.
Alexander Cristine, sebuha tulisan yang selalu aku baca tatkala melihat jam tanganku yang sedang menunjukan pukul 11.00 WIB setelah aku melakukan operasi yang alhamdulillah berjalan dengan lancar. Menjelang siang aku menuju ruang kerjaku sekedar untuk menulis agenda kerjaku sejak pagi tadi. Namun di sela langkahku menuju ruangan, ku lihat wajah yang tak asing bagiku, menangis tertunduk lesu di depan kamar jenazah.
“Maaf, apa anda Sera?”, aku yang masih mencoba menyamakan wajah wanita itu dengan Sera, teman SMP ku dulu.
“He-le-na?”, ia mengeja name tage yang tertempel di dadaku.
Tak butuh waktu lama, ia memeluku dengan erat. Dari sini aku yakin bahwa wanita muda itu adalah Sera, musuh bebuyutanku dulu. Aku yang tak mampu berbuat apa-apa, juga tak mungkin menghindari pelukanya hanya bisa pasrah dan menunggu ia melepaskan pelukanya dariku, sekitar tiga menit ia tak kunjung mengurai dekapan eratnya dari tubuhku sampai-sampai aku terbawa oleh isak tangisnya yang membekukan seluruh tubuhku. Aku juga sejenak melupakan sejarah tentang kami sewaktu umur kami masih kurang dari lima belas tahun dulu. Sera Gunawan, siswi SMP Tunas Bangsa putri tunggal dar Dimas Gunawan dan Yanti Gunawan itu sangat terkenal. Siapa yang tak tau keluarganya? Harta mereka? Bahkan hanya orang bodoh yang tak tau nama perusahaan ayahnya yang saban hari muncul di televisi. Ia perempuan yang cantik bersih, tinggi langsing, putih mulus bahkan akan ku akui dia sempurna bila saja sikap dan perilakunya terpuji. Ya mungkin itu namanya tak ada manusia yang tak sempurna. Sera gadis yang sombong, manja, dan selalu menganggap rendah setiap orang yang ia lihat, mungkin karena orang tua dan harta mereka, atau mungkin karena Sera saja yang sangat membanggakan harta milik ayahnya. Ayahnya, Dimas Gunawan adalah sesosok pemimpin yang baik hati, bijaksana, dan juga sederhana, hampir sama denga istrinya Yanti Gunawan. Mereka adalah pasangan yang sempurna, namun bagaimana dengan keluarga mereka? Setelah ditambah dengan Sera?
Beberapa menit berlalu, aku terpaksa melepas pelukan Sera karena nampaknya Sera tak kunjung sadar akan apa yang tengah ia lakukan di tempat umum itu. Ku gandeng tanganya menuju kantin rumah sakit tanpa sepatah kata pun. Aku masih tak tau harus berbuat apa? Ingin menanyakan apa yang terjadi, rasanya tak pantas untuk terlalu jauh mencampuri urusan Sera yang dulu juga tak berteman baik denganku. Kami duduk di meja nomor 5, memesan dua gelas orange juice dan ku mulai menyapanya, mungkin basa-basi.
“Sera, apa kabar? Lama tidak bertemu.”
“Sangat buruk untuk dua puluh tiga tahun terakhir, Hel.” Tatapan Sera tak lepas dari gelas yang sedang ia minum, setengah melamun.
“Kau tak tanyakan mengapa aku ada disini, Helena? Mengapa juga aku menangis sendiri di rumah sakit ayahmu ini”, sambung Sera.
“Sesungguhnya, Sera. Namun aku merasa tak pantas mencampuri urusanmu terlalu jauh. Tapi, bila kau mau berbagi, maka aku akan senang hati.”
Tak lama setalah aku menjawab pertanyaanya, Sera mulai bercerita tentang apa yang ia alami selama lima bulan terakhir, yang membuatnya seperti sekarang pula, menangis di rumah sakit ayah. Aku mendengarkan kronologisnya dengan seksama, dan melupakan semua masa lalu kami berdua. Aku sadar, aku dan dia sudah dewasa. Kami sudah dua puluh tiga tahun. Ternyata ayahnya, Dimas Gunawan meninggalkan Sera tepat satu hari menuju ulang tahunya pada Januari lalu. Semua jadwal acara yang sudah matang disusun hancur begitu saja dan menyebabkan kerugian puluhan juta rupiah, namun keluarga Gunawan tidak peduli. Hanya puluhan juta saja, bagi mereka uang adalah benda yang harus mencari mereka. Bukan mereka yang harus mencari uang tersebut. Sera shock berat atas kepergian ayah yang paling dikasihinya. Manusia satu-satunya yang memperlakukan Sera bak Cleopatra, mungkin kalau Tuhan itu banyak, ayahnya lah Tuhan pertama dalam hidup Sera. Ibunya, Yanti Gunawan bahkan sudah setegah gila semenjak kejadian itu. Sera semakin khawatir dengan keadaan itu, berbagai metode pengobatan dari yang tradisional hingga modern ia ikuti demi pulihnya kesehatan akal ibunya, ia juga tinggalkan bangku kuliah untuk itu. Milyaran rupiah sudah ia bayarkan untuk para dokter yang mau mencoba membantu kesembuhan ibunya dalam dua bulan pertama, namun hasilnya nol. Sera belum putus asa, kesana kemari ia browsing iklan mencari dokter, ahli pengobatan, bahkan yayasan terapi demi kesembuhan sang ibu. Sebuah situs internet dari sebuah rumah sakit ternama Singapura manawarkan pengobatan pada ibunya, Sera menaruh harapan besar pada rumah sakit itu. Karena memang tim medis disana sudah diakui di mata dunia. Tiga hari kemudian, Sera membawa ibunya untuk berobat ke Singapura.
Singapore Health Litter Center, sebuah rumah sakit khusus saraf yang ia datangi kala itu, bersama dokter George Smith, ia percayakan hidup Yanti Gunawan sepenuhnya, berapapun biayanya. Ternyata dari analisis tim medis, penyakit ibunya itu sangat langka. Mungkin hanya 7 dari 8 orang yang terserang penyakit saraf tersebut. Sudah pasti biaya pengobatan ibunya sangat mahal, apalagi di negeri orang, kini hampir satu bulan berada di Singapura, harta keluarga Gunawan hampir habis. Satu-satunya harapan sebagai sumber dana untuk pengobatan ibunya adalah perusahaan biskuit milik almarhum ayahnya. Sera berpikir untuk menjual saham perusahaan itu, tanpa berpikir panjang ia mengiklankanya melalui internet dengan harapan dapat dibeli oleh orang asing yang mampu membayarnya dengan harga lebih mahal. Benar saja, tak lama kemudian perusahaan Gunawan itu laku di tangan orang Jakarta, meleset jauh dengan apa yang ia harapkan, selain itu harganya pun juga tak terlalu tinggi, hanya cukup untuk pengobatan ibunya selama di Singapura. Namun Sera tak peduli, yang penting adalah kesehatan ibunya.
Dua hari ia ke Jakarta mengurus surat-surat penting dan meninggalkan ibunya yang koma ditangan tim medis tempat ibunya dirawat cukup membuat Sera tenang, karena ibunya berada bersama tim medis kelas dunia, sehingga ia dapat menjalankan bisnis dengan lancar. Dua hari berakhir, saatnya Sera kambali ke pengobatan ibunya, tinggal menunggu Garuda Indonesia mengantarnya ke Negeri Singa pukul 11.00 WIB, padahal sejak pagi tadi pihak rumah sakit menelepon Sera untuk melangsungkan operasi hari itu juga, maksud hati Sera ingin menemani ibunya operasi, namun keadaanya semakin buruk bila harus menunggu kedatangan Sera, kekhawatiran tentu muncul pada Sera juga dari tim dokter. Akhirnya Sera merelakan ibunya dioperasi tanpa ia di sampingnya, lagi pula Sera sudah mentransfer sejumlah uang untuk membayar operasi ibunya dari Jakarta. Waktu pemberangkatan pun tiba, Sera nampak resah dan gelisah. Ia tak mau sesuatu yang buruk terjadi pada ibunya, ingin rasanya cepat sampai di Singapura, mendatangi ibunya, mencium keningnya, dan selalu ada ketika Yanti Gunawan tertidur pulas.
Sesampainya di rumah sakit, operasi sudah berjalan dan hasilnya…
**********Bersambung**********
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silahkan tinggalkan komentar :)