HALLO!!!

Cinta itu hati yang rasa, bukan panca indera!

Sabtu, 10 September 2011

Hiden Love Story Between Keong Emas, Dayang Sumbi, Timun Emas, and Sangkuriang (gambar dari kiri ke kanan)


Minggu pagi di hutan belantara yang lebat, angin berhembus sedang, terik yang menyinari, dan Sangkuriang yang menikmati akhir pekanya untuk menyalurkan hobi, berburu. Ya, dari kecil ia sangat gemar berburu, hingga tak heran ia lihai menarik dan menembakan anak panah dari panah kesayanganya itu. Tak ada yang berbeda dari cara Sangkuriang berburu dari waktu ke waktu, meski sesekali ia mencoba hal baru. Bedanya, sewaktu ia kecil selalu ditemani anjing kesayanganya, Tumang yang telah mati di tanganya sendiri sewaktu ia kecil dulu. Sangkuriang adalah seorang pria muda tampan, berpostur tubuh tinggi, kekar, dan pemberani. Ia selalu disegani oleh semua wanita yang melihatnya, namun Sangkuriang tak pernah tertarik oleh wanita manapun sebelum ia bertemu dengan Dayang Sumbi ketika ia sedang berburu di tengah hutan, tersesat dan berlindung di sebuah gubug tua yang tak lain adalah kediaman Dayang Sumbi.
“Maliiiiiinggg….maliiingg….maaallingg!!!.” Pagi itu teriakan Dayang Sumbi mengejutkan Sangkuriang yang sedang tidur di pelataran rumahnya.
“Bukan! Bukan! Saya bukan maling! Maafkan aku tanpa ijin menginap tidur disini. Kenalkan, namaku Sangkuriang, aku sedang berburu di hutan ini namun tak tau kemana arah pulang. Hingga larut malam dan menemukan rumahmu disini.”
Melihat sosok pria tampan dihadapnya, Dayang Sumbi langsung percaya bahwa ia pasti tak punya niat jahat kepadanya.
“Aku Dayang Sumbi.” Perkenalan itu dimulai, “Maaf, gubug ini terlalu jelek untuk pria setampan anda.”
“Iya, namun pemiliknya secantik bidadari yang aku impikan. Ijinkan ku pinang kau dengan bismillah.” Dengan keyakinan penuh Sangkuriang menyatakan keinginanya pada Dayang Sumbi, karena ia juga terlalu yakin bahwa Dayang Sumbi hidup sendiri.
“Apa? Apa aku tak salah mendengar? Mungkin bila terjadi, justru kau meminangku dengan musibah, tuan. Aku seorang janda. Bahkan baru sepuluh menit yang lalu kita mulai bertemu, dan di menit yang kesebelas, kau ingin menikahiku. Apa kau yakin?”
“Sangat yakin, mataku tak pernah bohong melihat semua warna yang ada di dunia ini. Lidahku tak pernah bohong menilai masakan sejuta koki, dan kini ku yakin hatiku takan pernah bohong untuk memilihmu.”
Luluh sudah hati dan perasaan Dayang Sumbi yang sekian tahun tidak merasakan cinta dari siapa saja, meski banyak yang mengejarnya, dari duda kaya hingga saudagar tua iya tolak dengan seksama. Hari itu juga, Dayang Sumbi menerima lamaran Sangkuriang dan akan menikah tak lama lagi. Satu mingu berlalu, Dayang Sumbi banyak mendapat kejanggalan dari Sangkuriang. Mulai dari namanya yang mirip dengan anak yang dulu pernah ia usir, hingga bekas luka di kepala akibat kemarahanya pada anaknya dulu. Suatu hari semua terbongkar jelas, ia memberanikan diri untuk berbicara masalah itu pada calon suaminya, Sangkuriang dan Sangkuriag mencocokanya dengan apa yang dulu pernah ia alami. Ternyata benar  mereka adalah ibu dan anak yang puluhan tahun terpisah. Namun keduanya melanjutkan tekat untuk tetap menikah karena cinta.
Dua tahun menikah, mereka belum juga mendapat keturunan tak seperti apa yang mereka idamkan-idamkan, hingga pada suatu malam saat mereka berdoa, munculah sesosok Buto Ijo yang menyapa.
“Hai manusia, aku mendengar semua doa dan pintamu. Tenang saja, akan aku kabulkan. Huaa…ha…ha…ha”
“Si-sii-siappaa kam-kaaa-muu?.” Tanya Sangkuriang.
“Aku Buto Ijo yang selama ini mengawasi kalian di hutan ini. Karena kalian cukup baik dan menjaga hutanku, akan aku kabulkan satu permintaanmu itu.”
“Ap-ap apa syaratnya wa-wa-wahai Buto?”
“Tak perlu syarat apapun, aku bukanlah Buto Ijo yang sering muncul di dongeng kalian sewaktu kanak-kanak dulu. Aku membantu kalian dengan niat yang tulus. Malam ini tidurlah dengan berdiri, maka besok pagi Dayang Sumbi akan segera hamil.”
Wussssss....Buto Ijo pergi begitu saja bersama angin yang melewati rumah Dayang Sumbi. Akhirnya Dayang Sumbi dan Sangkuriang memutuskan untuk mencoba usaha itu, dan ternyata benar apa kata Buto Ijo. Sembilan bulan kemudian Dayang Sumbi melahirkan seoang anak perempuan yang cantik jelita diberi nama Timun Emas.
----Tujuh Belas tahun kemudian---

Timun tumbuh menjadi wanita dewasa yang sangat anggun dan menawan, kecantikanya tak dapat dipungkiri sehingga Sangkuriang, ayahnya sendiri jatuh cinta kepadanya.
“Istriku, anak kita kini tumbuh menjadi wanita yang luar biasa. Dia cantik, menarik, pria mana yang tak tergoda? Aku tak rela siapapun memilikinya.”
“Apa maksud ucapanmu, suamiku? Timun Emas memang gadis yang luar biasa, hatinya pun sangat baik, dia harus mendapatkan suami sepertimu.”
“Aku akan menikahinya.”
“Apa?!” Dayang Sumbi sangat terkejut mendengar pernyataan suaminya.
“Ya, akan ku nikahi Timun Emas, aku akan menjaganya dengan baik, sayang. Karena aku tak yakin dengan semua pria jaman sekarang. Bagaiamana denganmu?”
Mendengar pernyataan Sangkuriang, Dayang Sumbi merasa tak dihargai dan tak diinginkan lagi, sehingga ia meminta Sangkuriang untuk memilih antara Dayang Sumbi atau Timun Emas yang akan menjadi istrinya. Dan ternyata Sangkuriang lebih memilih Timun Emas ketimbang Dayang Sumbi, betapa hancur hati Dayang Sumbi saat itu, dan ia memilih pergi meninggalkan anak dan suaminya yang sah menjadi sepasang suami-istri di keesokan harinya.
Kini, Dayang Sumbi hidup sebatang kara di hutan seberang. Di usianya yang makin tua malah tidak ada seorangpun yang menghiasi sisa hidupnya. Suaminya, Sangkuriang lebih memilih anaknya, Timun Emas yang lebih muda dan cantik ketimbang ia yang sudah tua dan makin keriput saja. Makan, mencuci, tidur, bahkan mencari bahan makanan di hutan ia lakukan sendiri setiap hari. Atau bila bermalas-malasan, sudah pasti ia tidak akan menelan apapun ke dalam perutnya.
Pagi itu, seperti biasa Dayang Sumbi pergi ke sungai untuk memancing ikan agar tetap dapat bertahan hidup, dan ketika menunggu mata kail dengan penuh pengharapan agar ia bisa makan ikan hari itu, ia memandangi cahaya berkilauan di seberang sungai. Ia menghampiri  berniat mengambilnya.
“Waaww….ini keong emas. Akan ku bawa pulang benda ini, siapa tau ia dapat berubah menjadi wanita cantik baik hati yang bisa membantu hidupku ini.”
Tak lama setelah itu, Dayang Sumbi membawa pulang seekor keong emas dengan penuh imajinasi. Ia teringat pada dongeng “Keong Emas” masa kecilnya, bahwa ketika mbok rondo memelihara keong emas dirumahnya, semua pekerjaanya dikerjakan oleh si keong dan hidupnya menjadi jauh lebih baik. Tak usah susah payah bekerja, semua sudah tersedia.
“Hmb…akan ku letakan kau disini tuan putri.” Sambil membersihkan dasar gentong di dapurnya yang sangat kotor, “Jangan sungkan-sungkan kalau mau berubah. Nanti siapkan makanan buat saya ya, keong. Sekalian, kamar tidur saya sangat berantakan, tolong diberesi. Sengaja aku berpesan, supaya kau tak berpikir panjang akan pekerjaan apa yang akan kau lakukan disini, keong emas.”
Lalu Dayang Sumbi meninggalkan keong emas di gentongnya, dan benar saja si keoang emas benar-benar berubah menjadi wanita cantik. Namun…
“Haloo, spaaaaaadaaa….kemana sih yang punya kandang ayam ini?” Gumam Keong Emas.
Mendengar suara itu Dayang Sumbi yakin bahwa itu adalah Putri Keong Emas, benar saja memang iya.
“Ka-ka-kamu putri dari keong emas tadi, kan?”
“Iya, kamu siapa? Dimana pemilik kandang ayam ini, bu?”
“Saya,Putri. Saya pemilik gubug tua ini.” Dengan wajah penuh pengharapan, bahwa Keong Emas pasti segera merubah rumah kandang ayamnya itu dengan rumah mewah.
“Ya ampun, hari gini manusia masih bisa hidup di kandang ayam toh, buk? Ah…masa bodoh, tolong siapkan aku makanan. Aku lapar semenjak disungai tadi. Lagi mau nyari makan kok malah diajakin ke kandang ayam ini, ya sekarang ibu harus tanggung jawab.”
Ternyata, Dayang Sumbi mengasuh keong yang salah, tak seperti apa yang sudah dia harapkan lengkap dengan permintaanya yang tidak-tidak.
“Loh, kok saya sih, Putri? Bukanya putri ini adalah anak raja yang dikutuk penyihir jahat menjadi keong emas? Jadi, pasti kamu sakti. Sehingga dapat meyediakan makanan enak untuk kita berdua.”
“Apa?! Plis deh, ibuk jangan sok tau. Saya ini memang terkutuk karena dulunya berani sama orang tua, nah kutukan saya berakhir setelah ada yang mau menolong saya. Ibuk kan sudah menolong saya tadi, dan membawanya kemari, jadi bebas deh.”
“Jadi kamu bukan putri yang bisa menyihir semuanya menjadi lebih baik?” Nampaknya penyesalan mulai terlihat dari nada bicara Dayang Sumbi kepada Keong Emas.
“Ya bukan lah buk, makanya jangan terlalu percaya sama dongeng jaman Meghanthropus. Sudah, buatkan saya makanan! Yang enak! Sekarang saya tinggal disini selamanya.”
Dan mulai saat itu, justru Dayang Sumbi yang makin tua malah menjadi tukang suruh Si Keong Emas yang jauh dari apa yang ia harapkan. Hidupnya makin susah, salah sedikit Keong Emas pasti marah. “Sudah jatuh tertimpa tangga” itu sangat menggambarkan keadaan Dayang Sumbi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan tinggalkan komentar :)