HALLO!!!

Cinta itu hati yang rasa, bukan panca indera!

Jumat, 20 Januari 2012

analisis puisi "Panggilan" karya D. Zawawi Imron

1.     1.  LATAR
Dalam sebuah puisi berjudul “Panggilan” karya D. Zawawi Imron menggunakan latar tempat di sebuah dukuh yang bernama Kara’ang dimana tinggal keluarga yang  miskin, tidak mempunyai mata pencaharian setelah pekerjaanya sebagai pemintal tergeserkan oleh alternatif lain yang lebih modern. Dari sini mereka tentu tidak mempunyai penghasilan atau pendapatan tetap untuk mencukupi biaya hidupnya. Pada sebuah siang hari, seorang kepala keluarga pergi mencari bahan makanan yang tersedia di dalam hutan di sebuah bukit.
Keadaan pada puisi tersebut terjadi saat musim kemarau, dengan beberapa bukti kalimat dari sebuah paragraph ketiga:
“tanah telah menguning,” yang menggambarkan keadaan tanah pada umumnya pada saat musim kemarau. Tanah tandus yang tidak memiliki banyak air untuk dikatakan gembur.
“suara burung makin mengering,” itu berarti karena panasnya terik matahari, dan tidak adanya air menyebabkan (bahkan seekor) burung kekurangan air untuk ia berkicau indah seperti burung pada umumya.

2.      2. DIKSI
Diksi atau pemilihan kata yang dipakai oleh D. Zawawi Imron tergolong sedikit janggal. Namun begitu makna atau artinya masih dapat kita pahami. Mungkin kejanggalan itu terlahir karena ia seorang Madura, misalnya kejanggalan itu adalah:
walau dimakan tak dengan nasi,” pada paragraf keempat, yang seharusnya menurut Bahasa Indonesia yang umum adalah “walau memakanya tidak dengan nasi.”
Selain itu ia juga menggunakan kata-kata dengan makna konotasi ringan. Atau perumpamaan-perumpamaan yang tidak layak atau tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya, walaupun demikian kita masih dapat mengartikanya dan mengerti apa yang pengarang sampaikan melalui karyanya.
Pada puisi ini beliau juga menggunakan “investasi” alam untuk menuangkan jiwa seninya, saya yakin alam saat ini menjadi inspirasi satu-satunya. Misalnya: pelepah daun siwalan, tongkol pisang, semak belukar, dll.

3.      3. AMANAT
Pesan yang terkandung atau amanat dari puisi diatas adalah sebagai manusia yang hidup di dunia dengan segala susah dan kurangnya kita tidak boleh bergantung pada satu hal saja, keahlian atau kemampuan misalnya. Kita harus banyak belajar keterampilan, agar kita juga mempunyai banyak keahlian di berbagai bidang. Misalnya seorang pelajar yang menuntut ilmu di sekolah, tidak hanya materi pelajaran saja yang diterima sebagai ilmu pengetahuan, namun juga keterampilan,contohnya membatik, penggunaan komputer, atau lain sebagainya yang dipraktekkan secara langsung. Itu semua pasti akan berguna di dunia ini sekarang atau nanti, terlebih untuk mempertahankan hidup kita. Tidak seperti tokoh keluarga yang tergambar pada puisi tersebut, yang hanya bisa memintal saja. Sehingga ketika waktunya tiba sebuah jaman dengan segala teknologi dan kecanggihanya ia harus kehilangan pekerjaanya yang dilakukan dengan sederhana atau tradisional. Harusnya kita dapat menguasai keadaan, jangan sampai itu terbalik: keadaan yang menguasai kita.  Dan akhirnya penyesalan datang dikemudianya. Pada puisi karya D. Zawawi Imron , penyesalan itu tergambarkan pada bait ke __, dimana anaknya telah meninggal karena kelaparan sebelum ayahnya mendapatkan makanan dari dalam hutan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan tinggalkan komentar :)