HALLO!!!

Cinta itu hati yang rasa, bukan panca indera!

Sabtu, 16 Februari 2013

ANALISIS FILM "TANAH SURGA KATANYA"


Oleh: Linda Uji Purnasanti

SINOPSIS
Setelah meninggalnya istri tercinta, Hasyim, mantan sukarelawan Konfrontasi   Indonesia Malaysia tahun 1965, memutuskan tidak menikah. Ia tinggal bersama anak laki-laki satu-satunya yang juga menduda, dan dua cucunya, Salman dan Salina. Hidup di perbatasan Indonesia Malaysia merupakan persoalan tersendiri bagi mereka karena keterbelakangan pembangunan dan ekonomi.
Astuti, guru sekolah dasar di kota, datangg tanpa direncanakan. Ia mengajar di sekolah yang hampir rubuh karena setahun tidak berfungsi. Tak lama berselang datang pula dr. Anwar, dokter muda yang datang karena tidak mampu bersaing sebagai dokter profesional di kota.
Haris mencoba membujuk ayahnya untuk pindah ke Malaysia dengan alas an disana lebih menjanjikan secara ekonomi disbanding tetap tinggal di perbatasan Indonesia dan Malaysia. Hasyim bersikeras tidak mau pindah. Baginya kesetiaan kepadabangsa adalah harga mati.
Persoalan semakin meruncing ketika Hasyim tau kalau Haris sudah menikah dengan perempuan Malaysia dan bermaksud mengajak Salman dan Salina. Salman yang dekat dengan sang kakek mmilih tetap tinggal di Indonesia.
Hasyim sakit, dr. Anwar berusaha memberikan perawatan dan obat yang lebih rutin, namun keterbatasan sarana dan obat membuat kondisi Hasyim memburuk. Dr. Anwar memutuskan untuk membawa Hasyim ke rumah sakit kota dengan uang hasil kerja Salman, Hayim dibawa pakai perahu. Mereka berangkat ditemani oleh Astuti dan dr. Anwar. Di tengah perjalanan nyawa Hasyim tidak tertolong. Ia meninggal bersamaan dengan pekik dan sorak sorai Haris atas kemenangan kesebelasan Malaysia dan Indonesia.
ANALISIS
Film karya Dedy Mizwar ini adalah film yang mengangkat tema nasionalisme. Mengisahkan kehidupan masyarakat yang hidup di perbatasan Indonesia dengan Malaysia. Boleh dikatakan mereka lupa akan kehidupan mereka yang sebenarnya adalah warga Negara Indonesia. Disini, segala aspek kehidupan yang berbau Indonesia sangat tidak nampak. Bahkan mereka menggunakan mata uang dolar untuk bertransaksi. Hal ini menunjukan betapa bingungnya mereka untuk tetap memegang teguh jiwa nasionalisme mereka. Mungkin bukan kesalahan masyarakatnya sehingga menjadi demikian, mari kita tengok dari segala segi aspek kehidupan. Kemiskinan atau rendahnya perekonomian juga sarana kesehatan membuat mereka lupa akan tanah airnya sendiri, tanah surga, katanya. Bahkan dikisahkan hanya ada satu orang kakek yang memiliki bendera pusaka, merah putih yang tidak dikibarkan setelah peristiwa konfrontasi Indonesia dengan Malaysia.
Dari segi konflik, dimulai ketika Hasyim diajak pindah ke Malaysia oleh anaknya dengan alasan disana akan menjamin kehidupan yang lebih baik, namun ia menolak. Ditambah Salman, cucu laki-lakinya yang sangat dekat dengan kakeknya juga menolak untuk pindah ke Malaysia. Ia lebih memilih untuk menetap di Indonesia dengan sang kakek. Klimaksnya juga ada pada ceita ketika sang kakek sakit dan akan dibawa berobat ke kota menggunakan perahu, namun menghembuskan nafas teerakhir di tengah perjalanan dan ia meninggalkan pesan-pesan yang begitu mendalam kepada cucunya.
Pada film ini, banyak sekali nilai-nilai nasionalisme yang dapat kita ambil, juga quote-quote-nya sangat menggugah jiwa nasionalisme kita sebagai anak bangsa, generase penerus bangsa yang harus tetap menjaga nama baik Indonesia dimanapun berada. Nilai-nilai nasionaliseme menurut film tersebut antara lain, dari sang kakek yang diajak pindah ke negeri seberang oleh sang anak namun menolaknya dengan alasan yang sangat logis dan nasionalisme. Dialognya kepada sang anak di depan para cucunya sangat mengoyak hat. Kedua, nasionalisme yang diturunkan dari alat tukar atau mata uang yang digunaken oleh masyarakat perbatasan itu, mereka sama sekali tidak mengenal rupiah bahkan anak-anakpun tidak tahu mata uang negaranya sendiri, dari sini penonton mulai terketuk pintu hatinya. Bagaimana bisa mata uang Negara sendiripun tidak diketahui, padahal setiap hari digunakan untuk nilai tukar. Ketiga, ketika warga tak satupun memiliki bendera merah putih, hanya Hasyim, kakek tua yang memilikinya, menjaga dengan baik dan sangat menghargai bendera itu. Keempat, bagaimana bisa siswa sekolah dasar tidak tahu lagu kebangsaan negaranya sendiri? Yang seharusnya setiap hari Senin pagi dinyanyikan bersama-sama. Mereka menganggap lagu “Kolam Susu” adalah lagu kebangsaan mereka. Kelima, bagaimana bisa seorang anak rela menukar salah satu kain sarung yang sengaja dibeli untuk kakeknya dengan bendera Indonesia yang hanya dibuat tutup barang dagangan oleh seseorang.
Amanat yang tersirat juga tersurat bisa dikatakan menyindir para pejabat dan koruptor. Dimana mereka hanya duduk manis di gedung-gedung mewah menggunakan fasilitas negara yang dananya juga dipungut dari rakyat-rakyat kecil. Mereka tidak sadar bahwa di tubuh negara sendiri, masih banyak yang memperihatinkan. Hal ini ditunjukan ketika seorang pejabat mengunjungi desa perbatasan ini, awalnya ia datang untuk membantu kesulitan yang dialami disini. Namun seketika ia menggagalkan niatnya hanya karena seorang anak laki-laki membacakan puisi karyanya dengan menggunakan syair lagu “Kolam Susu” dan ditambahkan beberapa kalimat polos darinya. Ia sangat tersinggung dengan puisi itu. Betapa mirisnya kita melihat kondisi negeri ini, negeri yang kaya raya, katanya, namun masyarakatnya tidak berjiwa nasionalisme yang tinggi.
Begitu banyak adegan-adegan dan dialog-dialog pemain di film ini yang menggugah jiwa nasionalisme kita, saudara! Dari sini saya yakin, pasti lebih banyak lagi kekeliruan diluar sana yang terjadi. Semoga pemerintah dan pihak-pihak terkait menyadarinya sehingga dapat menumbuhkan nasionalisme kembali pada diri mereka, membangun Indonesia yang lebih maju, dan bagi pelajar seperti saya, saya akan lebih mencoba mensyukuri keadaan kita disini. Dimana masih banyak kekurangan di mata saya, namun saudara kita diluar sana lebih merasa kurang dari saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan tinggalkan komentar :)